Wednesday, July 3, 2019

TEOLOGI PEMBEBASAN-AGAMA ,IDEOLOGI DAN TEOLOGI PEMBEBASAN MENURUT PANDANGAN ISLAM


AGAMA ,IDEOLOGI DAN TEOLOGI PEMBEBASAN MENURUT PANDANGAN ISLAM

            Jika agama dipandang serius dianggap kebaikan dan berdiri sepihak dengan revolusi, kemajuan dan perubahan, maka agama harus dilepaskan dari aspek-aspek teologis yang bersifat filosofis- yang berkembang mencapai puncaknya hingga aspek filosofis ini menjadi bagian utama dari agama yang bukannya mendukung kaum yang tertindas, namun justru mendukung kelompok penindas[1]
            Asghor Ali Engineer meyakini bahwa agama adalah untuk membebaskan umat dari ketertindasan oleh kaum-kaum kapitalis dan kaum elitis dapat dikembalikan pada konsep dasar ajaran agama. Sesungguhnya esensi agama dan diturunkan seorang Rasul kepada umatnya untuk membebaskan umatnya dari ketertindasan yang dilakukan oleh penguasa.
            Tujuan Islam dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan sosial (justice). Pertama, Islam menekankan kesatuan manusia (unity of mankind) yang ditegaskan dalam ayat al-Qur’an, “Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling mulia di antara di sisi Allah adalah yang paling taqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui”. Ayat ini menentang keistimewaan kesukuan, kebangsaan dan keluarga, dengan satu penegasan dan seruan pentingnya kesalehan (taqwa). Kesalehan yang disebutkan dalam al-Qur’an bukan hanya kesalehan ritual, namun juga kesalehan social, “Berbuat adillah karena itu lebih dekat dengan taqwa[2].
            Keduanya, ayat tadi menyebutkan tentang Islam yang sangat mementingkan keadilan di semua aspek kehidupan. Keadilan tidak akan terjadi jika orang lemah tidak dibebaskan dari penderitaan mereka, serta memberi mereka peluang untuk menjadi pemmpin. Al-Qur’an dengan tidak ragu-ragu mempercayakan kepimpinan  seluruh dunia kepada mustad’afin, yakni kaum yang lemah.
            Al-Qur’an juga mengecam Fir’aun sebagai zalim (penindas) dan mustakbir (sombong), dan sekali lagi menyatakan bahwa  orang-orang lemah adalah pewaris dunia, “kepada kaum yang lemah, kami wariskan tanah yang telah kami berkati di timur dan di barat, Dan laksanakanlah janji Tuhanmu yang indah atas bani Israil karena kesabarannya. Dan Kami hancurkan ciptaan Fir’aun dan kaumnya serta apa yang telah dibangunnya. Dari ayat di atas dapat dicermati bahwa Allah tidak memberi toleransi kepada struktur yang menindas dan menganiayai orang-orang yang lemah, dan penganiayaan ini tidak dilakukan tidak lain oleh penindas. Nabi Musa telah menjadi pemimpin kaum tertindas dan kemudiannya mengobarkan api perjuangan untuk membebaskan bangsa Israel yang tertindas.
            Jika nabi Musa menjadi pembebas bagi bangsa Israil yang tertindas, maka nabi Muhammad adalah pembebas bagi seluruh umat manusia dengan cara membebaskan golongan masyarakat lemah.
            menurut Engineer untuk mengembalikan Agama dianggap sebagai kebaikan dan berpihak kepada revolusi, kemajuan, juga perubahan, maka aspek-aspek teologi yang bersifat filosofis, intelektualistik, metafisis yang sarat akan ambiguitas harus diubah dan diganti. Dimana doktrin-doktrin teologis harus dibaca ulang dan dimaknai dalam makna-makna revolusioner-transformatif. Dalam pembacaan dan pemaknaan ulang ini, Khudori Soleh[28], mengutip dari Hassan Hanafi diperlukan; pertama, analisa bahasa, dimana istilah-istilah dalam teologi sebenarnya tidak hanya mengarah pada yang transenden dan ghaib, tetapi juga mengungkap tentang sifat-sifat dan metode keilmuan yang empirik-rasional. Kedua, analisa realitas, hal ini berguna untuk menentukan stressing bagi arah dan orientasi teologi kontemporer.
Untuk merubah teologi klasik menjadi teologi praksis yang sarat dengan pembebasan diperlukan beberapa hal; pertama, konsep keimanan. Iman tidak hanya percaya tentang adanya Tuhan saja, tetapi juga mempunyai implikasi secara sosiologis. Dalam arti, dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian, ketertiban, memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Engineer mengatakan bahwa iman membuat orang menjadi bisa dipercaya, diandalkan dan cinta damai. Tanpa iman, pendapat seseorang menjadi kosong dan tidak berakar pada kedalaman pribadinya. Maksudnya, kata-kata dan gagasan hanya akan berarti bagi dirinya sendiri, dan akan memperbudak orang lain. Itulah yang namanya keyakinan dengan segala implikasi nilai-nilainya yang membuat kata dan pola pikir menjadi bermanfaat, bukan malah menjadi struktur yang menindas.
Menurut Engineer, agama dapat menjadi candu atau sebaliknya menjadi kekuatan yang revolusioner tergantung pada dua hal; pertama, realitas kondisi sosio-politik. Dan kedua, tergantung pada subyek yang bersekutu dengan agama, kaum revolusioner atau pro status quo. Artinya, performa agama sangat tergantung pada subyek yang memaknainya dalam relasinya dengan realitas sosio-politis yang dihadapi. Agama tak ubahnya sebuah ideologi yang akan sangat dideterminasi oleh aktor yang mengendalikan. Bila dimaknai sebagai sesuatu yang transformatif dan progresif, maka agama pun akan tampil demikian, begitu juga sebaliknya. Namun, prinsip mendasar dari agama adalah bahwa ia merupakan garda depan bagi usaha-usaha transformatif-progresif dan gerakan-gerakan revolusioner untuk membela kaum tertindas.
Agama yang mempunyai fungsi pembebas ini harus benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan praktis. Maka umat Islam harus dapat memfungsikan Islam dalam kehidupan bermasyakarat melalui nilai-nilai dasarnya. Tanpa melalui fungsionalisasi nilai-nilai unversal Islam yang demikian, sebagai institusi sosial Islam akan menjadi agama yang tidak produktif dan tidak relevan dengan dinamika dan problematika yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, reposisi Islam sebagai rahmatan lil ’alamin sudah seharusnya tidak hanya ditempatkan pada individual salvation yang peduli pada kenikmatan spiritual (spiritual hedonism) bagi individual saja, tetapi juga harus peduli terhadap kehidupan sosiologis masyarakat. Oleh karena itu, umat Islam perlu menunjukkan moralitas agama sebagai ”spirit” dan ”agen” perubahan, di samping menjadikan keadilan sosial sebagai paradigma agama. Disinilah makna teologi pembebasan yang menjadikan ruh agama sebagai sandaran dalam membebaskan manusia dari segala keterbatasan yang menghambat pengembangan potensi manusia.
Islam agar dapat dipahami sebagai suatu kesadaran praktis, harus dijadikan sebagai kerangka ideologi, karena hanya dengan cara ini Islam akan mampu menjadi kekuatan pembebasan dan revolusioner. Hal ini diamini oleh Ali Syari’ati, menurutnya menjadikan Islam sebagai ideologi berarti memahami Islam sebagai suatu gerakan kemanusiaan, historis, dan intelektual, sehingga ia akan mampu memberikan elan progresivitas praksis bagi penganutnya sekaligus akan menjalankan misinya dalam memberikan pengarahan, tujuan, dan cita-cita serta rencana praksis sebagai dasar perubahan dan kemajuan kondisi sosial yang diharapkan.
Seperti yang diungkapkan Hassan Hanafi, Islam memiliki nilai transformatif karena tidak sekedar dogma, ritus, dan kepercayaan saja, tetapi juga merupakan etika, wawasan kemanusiaan, dan ilmu sosial[3]. Hanafi juga menekankan pentingnya memunculkan agama dalam wajah pembebasan yang berangkat dari dogma (keyakinan) menuju revolusi. Dari kerangka ini umat Islam dituntut untuk menjadikan Islam sebagai sebuah spirit teologi pembebasan. Corak Islam pembebasan inilah yang oleh Hanafi disebut sebagai Kiri Islam, yaitu teologi kultural yang dianggap mampu membebaskan rakyat jelata dari cengkeraman kaum feodal beserta seperangkat struktur kapitalistiknya. Pemikiran semacam ini perlu mendapat perhatian serius karena memiliki nilai transformatif yang tinggi. Nilai transformatif itu dapat dilihat dalam upaya menjadikan Islam sebagai landasan moral dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan untuk membebaskan kaum pinggiran dari hegemoni kaum feodal dan kalangan mayoritas serta membebaskan mereka dari rezim yang diktator.




[1]Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2000),31-32
[2]Ibid, 33
[3] Hassan Hanafi, Agama, Kekerasan, dan Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Jendela Press, 2001),  43

No comments:

Post a Comment