Pendahuluan
Psikologi
agama berusaha untuk menjelaskan pekerjaan pikiran dan perasaan seseorang
terhadap agama, baik ia orang yang tahu beragama, acuh tak acuh maupun yang
anti agama. Ini berarti bahwa yang diungkap dan dijelaskan dalam psikologi
agama adalah proses mental orang tersebut bagaimana dalam psikologi pada
umumnya. Ahli psikologi agama tidak perlu meneliti apakah keyakinan beragama
tersebut berasal dari pengaruh luar atau dari dalam dirinya. Hal ini perlu
ditekankan, oleh karna itu tidaklah mudah mengkaji proses mental yang berupa
kesadaran beragama dan pengalaman beragama seseorang yang sifatnya subjektif
dan individual.
Dalam
makalah ini kami akan menerangkan beberapa poin tentang metode-metode yang
digunakan dalam psikologi agama.
BEBERAPA METODE DALAM PSIKOLOGI AGAMA
Sebagai
disiplin yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penilitian
ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang
terkumpul dan dianalisis secara objektif.
Karena
agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat
mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara saksama, terlepas dari
pengaruh-pengaruh subjektivitas. Namun demikian, agar
penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti
tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukan adanya
sikap objektif. Maka dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara
lain[1]:
1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan
secara empiris.
3. Dalam penelitian harus bersikap filosofis spiritualistis.
4. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan
khayali.
5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi dan metodenya.
6. Menyadari tentang adanya perbedaan ilmu dan agama.
7. Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya.
8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian
ilmiah.
Dengan
berpedoman kepada petunjuk-petunjuk seperti dikemukakan di atas, diharapkan
para peneliti dalam mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data akan bersikap
lebih objektif. Dengan demikian, hasil diperoleh tidak akan menyimpang dari
tujuan semula. Misalnya, karena seseorang peneliti menganut suatu keyakinan
agama tertentu, maka dalam menafsirkan fakta yang ada a memasukkan konsep-konsep
yang sejalan dengan keyakinannya. Pengaruh keyakinan tadi paling tidak akan
cenderung membawa kesimpulan yang bersifat subjektif. Dan lebih parah lagi,
kalau kesimpulan tersebut bersifat mencela terhadap suatu keyakinan agama.
Padahal dalam meneliti, seorang peneliti harus memiliki sikap onjektif yang
baik.
Dalam meneliti ilmu jiwa agama menggunakan sejumlah
metode, antara lain dapat dikemukakan sebagi berikut[2]:
1. Dokumen Pribadi (Personal Document)
Metode
ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan
batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi
mengenai hal tersebut maka cara tersebut maka cara yang ditempuh adalah
mengumpulkan dokumen pribadi orang seorang. Dokumen tersebut mungkin berupa
autobiografi, biografi, tulisan dan catatan-catatan yang dibuatnya.
Didasarkan
atas pertimbangan bahwa agama merupakan pengalaman batin yang bersifat
individual di kala seseorang merasakan sesuatu yang ghaib, maka dokumen pribadi
dinilai dapat memberikan informasi lengkap. Selain catatan atau tulisan, juga
digunakan daftar pertanyaan kepada orang-orang yang akan diteliti. Jawaban yang
dberikan secara bebas memberi kemungkinan bagi responden untuk menyampaikan
kesan-kesan batin yang berhubungan dengan agama yang diyakininya. Ungkapan
seperti itu banyak membantu penelitian yang dilakukan.
William
James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience tampaknya menggunakan
metode ini. Walaupun penelitinannya terbatas pada ahli-ahli agama tidak
memasukkan orang biasa, namun hasil penelitian itu sendirir cukup bermanfaat.
Dalam buku tersebut James mengemukakan sejumlah kasus pribadi tentang
pengalaman agama yang dirasakan oleh masing-masing individu.
Dalam penerapannya,
metode dokumen pribadi ni dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik
tertentu. Di antara yang banyak digunakan adalah[3]:
a. Teknik Nomotatik
Teknik
ini digunakan untuk menarik kesimpulan sejumlah dokumen yang diteliti[4], juga digunakan untuk mempelajari perbedaan-perbedaan
individu. Dalam penerapannya nomotik ini mengasumsikan bahwa pada diri manusia
terdapat suatu lapisan dasar dalam struktur kepribadian manusia sebagai sifat
yang merupakan ciri umum kepribadian.
Nomotik yang digunakan dalam studi tentang
kepribadian adalah mengukur perangkat sifat seperti kejujuran, ketekunan dan
kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok. Ternyata ditemukan bahwa
sifat-sifat itu ada pada setiap individu, namun jadi berbeda oleh hubungan
antara sifat itu dengan sikap seseorang. Perbedaan tentang tinggi rendah
sifat-sifat dasar itu ditampilkan dalam sikap sangat tergantung dari situasi
yang ada. Jadi dapat ditarik suatu ketetapan bahwa sikap individu tergantung
dari situasi yang dihadapinya.
b. Teknik Analisis Nilai (Value Analysis)
Teknik
ini digunakan dengan dukungan analisis statistik. Data yang terkumpul
diklasifikasikan menurut tekik statistik dan analisis untuk dijadikan penilaian
terhadap individu yang diteliti. Teknik statistik digunakan berdasarkan
pertimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan
menggunakan bantuan ilmu eksaksa, terutama dalam mencari hubungan antara
sejumlah variabel. Carlson misalnya menemukan dalam penelitiannya bahwa
terdapat hubungan antara kepercayaan dengan tingkat kecerdasan. Didapatnya
korelasi antara agama dan kecerdasan yang berarti bahwa anak-anak yang kurang
cerdas cenderung berpegang erat kepada kepercayaan agama, sedangkan paa
anak-anak yang cerdas kecenderungan itu lebih kecil.
c. Teknik Idiography
Teknik
ini juga merupakan pendekatan psikologi yang digunakan untuk memahami
sifat-sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomotatik, maka terjadi
ideografi lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat yang dimaksud
dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas
masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang (Philip G.Zimbardo,
1979: 295-296).
Pelopor
dari penggunaan teknik ideografi dalam psikilogi agama adalah Gordon Allport.
Menurut Allport untuk mempelajari kepribadian semestinya mencakup sifat-sifat
dasar yang merupakan ciri khas yang ada hubungan antara seseorang dengan
perspektif diriya. Masing-masing sifat dasar (tabiat) yang dimiliki seseorang
individu sebagai ciri khas terlihat dalam penampilan sikap seseorang secara
umum (Philip G.Zimbardo, 1979: 295-297).
Ideografi
sebagai pelengkap dari teknik nomotatik untuk mempelajari sifat-sifat dasar
manusia secara individu yang berada dalam satu kelompok. Teknik ini banyak
digunakan oleh Gordon Allport dalam penelitiannya. Malahan Allport telah
menyumbangkan 13 ciri-ciri tentang sikap manusia.
d. Teknik penilaian terhadap sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik
ini digunakan dalam penelitian biografi, tulisan atau dokumen yang ada
hubungnnya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut,
kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap
persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman
dan kesadaran agama.
2. Kuesionar dan Wawancara
Metode
kuesioner maupun wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang
lebih banyak dan mendalam secara lansung kepada responden.
Metode
ini dinilai memiliki beberapa kelebihan antara lain:
a. Dapat memberi kemungkinan untuk memperoleh jawaban yang cepat dan
segera.
b. Hasilnya dapat dijadikan dokumen pribadi tentang seseorang serta dapat
pula dijadikan data nomotatik.
Selain pertimbangan tersebut, metode ini juga
mempunyai kelemahan-kelemahan, seperti:
a. Jawaban yang diberikan terikat oleh pertanyaan hingga responden tak
dapat memberikan jawaban secara lebih bebas.
b. Sulit untuk menyusun pertanyaan yang mengandung tingkat relevansi yang
tinggi, karena itu diperlukan keterampilan yang khusus untuk itu.
c. Kadang-kadang, sering terjadi salah penafsiran terhadap pertanyaan yang
kurang tepat, dan tidak semua pertanyaan sesuai untuk setiap orang.
d. Untuk memperoleh jawaban yang tepat, dibutuhkan adanya jalinan kerja
sama yang baik antara penanya dan responden. Dan kerja sama seperti itu
memerlukan pendekatan yang baik dari si penanya.
Dalam
penerapannya, metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk.
Di antara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui[5]:
a. Pengumpulan pendapat masyarakat (Publics Opinion Polls)
Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan
wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak
ramai. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang
sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian. Teknik ini banyak digunakan
oleh E.b Taylor dalam penelitiannya.
b. Skala penelitian (Rating Scale)
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang
factor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan
pengaruh tempat dan kelompok. Misalnya, dengan adanya penyebab khas
ini peneliti dapat memahami latar belakang timbulnya perbedaan antara penganut
suatu keyakinan agama. Seperti sikap liberal lebih banyak dijumpai di kalangan
penganut protestan, dan sikap konservatif lebih banyak dijumpai di kalangan
penganut agama katolik dan sebagainya.
c. Tes (Test)
Tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah
laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang
diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara
sistematis.
d. Eksperimen
Teknik eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap
dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui pelakuan khusus yang sengaja
dibuat. Teknik ini sering digunakan oleh J.B. Cock dalam melakukan
penelitiannya.
e. Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (Sociological
and anthropological observation)
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data
sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau
kelompok. Selain itu juga menjadikan unsur-unsur budaya yang bersifat materi
(benda budaya) dan yang bersifat spiritual (mantra, ritus) yang dinilai ada
hubungan dengan agama.
f. Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara ini dugunakan dengan membandingkan antara
tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi
melalui pengukuran statistik kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan pendekatan
psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan.
Berdasarkan pendekatan tersebut misalnya ditentukan
kategori hubingan menjadi:
1) Adanya persaudaraan antara sesama orang yang ber-Tuhan.
2) Masalah ke-Tuhanan dan agama
3) Adanya kebenaran keyakinan yang terlihat dalam bentuk formalitas
4) Bentuk-bentuk praktik keagamaan
g. Pendekatan terhadap perkembangan (Development Approach)
Teknik ini digunakan untuk meneliti mengenal
asal-usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan
agam yang dianutnya. Cara yang digunakan antara lain melalui pengumpulam
dokumen, catatan-catatan, riwayat hidup, dan data antropologi. Cara ini digunakan
oleh Sigmund Freud E.B. Taylor dan juga Frans Boas.
h. Metode Klinis dan Proyektivitas (Clinical Method and
Projectivity Technique)
Dalam pelaksanaannya, metode ini memanfaatkan cara
kerja klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara
jiwa dengan agama. Usaha penyembuhan dititikberatkan pada kepentingan manusia
(penderita), kemudian untuk kepentingan penelitian digunakan teknik
proyektivitas melalui riset dan pengumpulan data tertulis mengenai penderita
sebagai bahan diagnose. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan
pengamatan terhadap penderita.
i. Metode Umum Proyektivitas, berupa penelitian dengan cara menyadarkan
sejumlah masalah yang mengandung makna tertentu. Selanjutnya, peneliti
memperhatikan reaksi yang muncul dari responden. Dengan membiarkan reaksi
secara tak sengaja itu, maka pernyataan yang muncul dari reaksi tadi dijadikan
dasar penafsiran terhadap gejala yang diteliti, reaksi merupakan kunci pembuka
rahasia.
j. Apersepsi Nomotatik (Nomothatic Apperception)
Caranya dengan menggunakan gambar-gambar yang
samar. Melalui gambar-gambar yang diberikan, diharapkan orang yang diteliti
dapat mengenal dirinya. Selain dari gambar, khusus utuk anak-anak biasanya
diberikan boneka untuk membantu mengenai anggota keluarganya. Pemberian gambar
atau boneka diharapkan akan membantu orang untuk membentuk ide baru yang dapat
digunakan sebagai bahan nformasi bagi peneliti.
k. Studi kasus (Case Study)
Studi kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen,
catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus-kasus tertentu. Jadi, studi
kasus merupakan cara pengumpulan data melalui berbagai teknik. Metode ini dapat
digunakan sebagai bahan penyembuhan, menanamkan pengertian, mengambarkan
masalah yang ada hubungannya dengan psikologi, hingga dapat menghasilkan
kesimpulan, dan penggolongan mengenai kasus-kasus tertentu.
l. Survei, biasanya digunakan dalam penelitian sosial. Metode ini dapat
digunakan untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan
pembentukan organisasi dalam masyarakat. Misalnya, karena survei ini dilakukan
dengan menggunakan berbagai metode, termasuk studi kasus, maka hasil yang
diperoleh biasanya lebih baik dan dapat mengambarkan hasil pengamatan secara
lebih teliti.
Metode kuesioner dan
wawancara dengan berbagai tekniknya seperti dikemukakan di atas, biasanya
digunakan untuk tujuan-tujuan seperti[6]:
a. Untuk mengetahui latar belakang keyakinan agama.
b. Untuk mengetahui bentuk hubungan manusia dengan Tuhannya.
c. Serta untuk mengetahui dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi
Selain dari tujuan
tersebut, dalam kaitannya dengan penelitian psikologi agama juga dapat
digunakan untuk tujuan-tujuan lain,misalnya:
a. Untuk kepentingan pembahasan, mengenai hubungan antara penyakit mental
dengan penyakit beragama.
b. Untuk dijadikan bahan guna membentuk kerja sama antara ahli psikologi
dengan ahli agama; dan
c. Juga untuk kepentingan meneliti dan mempelajari kejiwaan para tokoh
agama, termasuk para pembawa ajaran agama itu sendiri seperti para nabi.
Penggunaan
metode-metode dalam penelitian psikologi agama sebenarnya dapat dilakukan
dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan jenis data yang akan
dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen pribadi untuk meneliti
pengalaman agama. Demikian pula, ada yang menggunakan dokumen pribadi, baik
berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan
angket, dan wawancara sebagai pelengkap. Dengan banyaknya metode yang mugkin
digunakan, terlihat bahwa metode yang dipakai dalam penelitian psikologi agama
tidak berbeda dengan metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang
disiplin ilmu pengetahuan lain.
Kesimpulan
Agama itu menyangkut
hal batin manusia yang tidak bisa ditanggapi oleh manusia, maka masalah agama
sangat sulit untuk diteliti dengan baik dan saksama. Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih
netral dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka
diperlukan adanya sikap yang objektif.
Dalam meneliti ilmu
jiwa agama menggunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1. Dokumen Pribadi (Personal Document).
2. Kuesioner dan wawancara.
No comments:
Post a Comment