Wednesday, July 3, 2019

makalah tafsir ayat-ayat aqidah- surah al hasyr ayat 22-24


PENDAHULUAN

            Surah al-Hasyr ayat 22-24 banyak membahas tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah atau dikenal sebagai Asma’ Al-Husna. Asma’ Al-Husna juga tidak terlepas dari perdebatan kalam. Dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah khususnya kaum salaf, mereka berpendapat bahwa kita harus mengakui dan menetapkan semua nama dan sifat Allah swt yang termaktub al-Qur’an dan Sunnah, tanpa sedikit pun penafian, penyimpangan, penyerupaan dan penentuan atau hakikatnya.
            Kalau orang-orang Mu’tazilah mengatakan, pengakuan terhadap adanya sifat-sifat pada Allah seperti hidup, kuasa, marah dan turun dapat membawa kepada taysbih dan tajsim karena yang memiliki sifat-sifat tersebut hanya yang berjisim, kita juga dapat mengatakan bahwa yang dinamai dengan hay (yang hidup), alim (yang mengetahui) dan qadir (yang berkuasa) misalnya, adalah juga berjisim. Karena itu, Mu’tazilah menafikan adanya nama-nama Allah.        


هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ ٢٢ هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤
22. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
23. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan
24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Tafsir
Al-Quddus(القدس)  
1.      Menurut Imam Ghazali, Allah al-Quddus adalah Dia Yang Maha Suci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh indra, dikhayalkan oleh imajinasi, diduga oleh waham, atau terlintas dalam nurani dan pikiran.[1]
2.      Al-Quddus adalah Zat  yang bebas dari kebutuhan dan sifat-sifat-Nya bebas dari kekurangan. Dialah Zat yang menyucikan jiwa-jiwa orang yang melawan dosa, yang mengambil orang-orang jahat dari ubun-ubun mereka, yang terbebas dari ruang waktu.[2]
3.     Maha Suci atau Al-Quddus adalah Dia Bersih, karena tidak ada maksud buruk dalam kekuasaan mutlak itu. Dia Maha Suci sebab Dia pun bersifat kasih, bersifat sayang. Tidak ada aniaya terhadap hamba-Nya ,sebab penguasa yang aniaya ialah karena dalam dirinya merasa bahwa orang yang dianiaya itu akan jadi penghalang kuasanya.[3]
Al-Salam  (السلام)
Ada beberapa makna:
1.      Bermakna keselamatan dan ia adalah syurga[4]. Dengan sifat As Salam, Allah Swt. menganugerahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semua makhluk dan secara khusus menyelamatkan orang-orang beriman dari siksa neraka.
2.      Al-Salam Allah bermaksud keadaannya yang menjadi penyebab kepada kesejahteraan/keselamatan.
3.      Ibn Al-A’rabi menyatakan bahwa semua ulama bersepakat bahwa nama as-salam yang dinisbahkan kepada Allah berarti  ((ذو السلامة yakni Pemilik as-Salamah, hanya saja-tulisnya lebih jauh-mereka berbeda memahami istilah ini. Ada yang memahaminya dalam arti Allah terhindar dari segala aib dan kekurangan, ada juga yang berpendapat bahwa Allah yang menghindarkan semua makhluk dari penganiayaan-Nya, dan yang lain berpendapat  bahwa as-salim yang dinisbahkan kepada Allah itu berarti “Yang memberi salam kepada hamba-hamba-Nya di surga kelak”.[5]
4.      Al-Ghazali menjelaskan bahwa maknanya adalah keterhindaran Dzat Allah dari segala aib, sifat-Nya dari segala kekuranganm dan perbuatan-Nya dari segala kejahatan dan keburukan, sehingga dengan demikian tiada kedamaian/keterhindaran dari keburukan dan aib yang diraih dan terdapat di dunia ini kecuali merujuk kepada-Nya dan bersumber dari-Nya.[6]

Al-Mu’min (المؤمن)
1.      Al-mu’min berarti Zat yang menyediakan keamanan. Dia memberikan sarana-sarana pencapaian, menutup semua jalan ketakutan. Tidak ada kedamaian dalam kehidupan ini selain sebab-sebab penyakit dan kebinasaan, dan tidak pula keamanan dan kedamaian di kehidupan di akhirat selain siksaan dan kemurkaan, kecuali bahwa Dia menyediakan sarana-saran untuk memperoleh-Nya.[7]
2.      Quraish Shihab cenderung memahami kata Mu’min dalam arti pemberi rasa aman. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah adalah Pemberi rasa aman,,antara lain dalam firman-Nya pada QS Quraish [106]:4:” dan Dia (allah) memberi mereka rasa aman dari ketakutan.” Ayat ini menunjukkan bahwa kaum kafir pun memperoleh rasa aman, namun tentu saja rasa aman yang sempurna dirasakan oleh orang-orang mukmin.[8]
3.      Pendapat lain tentang makna Mu’min yang menjadi sifat Allah itu dikemukan oleh asy-Syanqithi. Menurutnya, al-mu’min dapat dipahami sebagai bermakna pembenaran Allah dalam keimanan hamba-hamba-Nya yang beriman dan ini mengantar akan diterimanya iman mereka serta tercurahnya ganjaran kepada mereka. Atau dapat dipahami sebagai pembenaran terhadap apa yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.[9]
Al-Muhaimin ((المهيمن
1.      Ada pendapat berpendapat bahwa kata ini sama dengan kata al-mu’min karena menurut mereka asal kata (المهيمنal-muhaimin berasal dari (المؤامنal-mua’min. jika pendapat ini diterima, maka makna kata ini sama dengan makan mu’min yang telah dijelaskan sebelum ini.[10]
2.      Pendapat yang lebih kuat adalah yang mengartikan al-muhaimin sebagai menjadi saksi terhadap sesuatu serta memeliharanya. Al-Qur’an adalah muhaimin terhadap kitab-kitab yang lalu yakni jika ada apa yang terdapat di sana tidak bertentangan dengan yang tercantum dalam al-Qur’an. Sebaliknya ia saksi bagi kesalahannya, jika bertolak belakang dengan kandungan al-Qur’an. Dengan kesaksian itu al-Qur’an pun berfungsi sebagai pemelihara.[11]
3.      Al-Mibrad menjabarkan sebagai : Zat Yang Mahabaik dan Mahakasih. Bangsa Arab melukiskan burung yang merentangkan sayapnya untuk melindungi anaknya sebgai muhaimin atas mereka.[12]
4.      Al-Muhaimin adalah Zat yang meliputi pengaturan urusan-urusan semua penciptaan-Nya dalam pengetahuan-Nya dari atom terkecil hingga planet terbesar dalam kosmos.[13]
Al-Jabbar (الجبار )
1.      Abdullah bin ‘Abbas mengatakan bahwa al-Jabbar adalah Raja yang Agung, sementara Ibn al- Anbari mengatakan bahwa al-Jabbar adalah Zat yang berada diluar pencapaian manusia. Yang lain mengatakan bahwa al-jabbar berarti Zat yang tidak bias diusik oleh penindas kuasa manapun, dan tak seorang pun bias berselisih dengan-Nya perihal sesuatu.[14]
2.      Al-Biqa’I menafsirkan kata Jabbar dengan “Yang Maha Tinggi” sehingga memaksa yang rendah untuk tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya dan tidak terlihat atau terjangkau oleh yang rendah apa yang mereka harapkan untuk diraih dari sisi-Nya, ketundukkan dan ketidakterjangkauan yang nampak secara amat jelas.[15]
Al-Mutakabbir (المتكبر)
1.      Yang Membesarkan Diri. Arti yang diambil dari Mutakabbir dan yang telah menjadi bahasa Melayu (Indonesia)  tekebur dari kata takabbur. Pada Allah memang patutlah sifat itu dan itulah yang layak. Allah itu berhak buat membesarkan diri-Nya, karena Dia memang Maha Besar (Allahu Akbar).[16]
2.      Imam Ghazali berpendapat bahwa al-Mutakabbir adalah yang memandang selainnya hina dan rendah, bagai pandangan raja kepada hamba sahayanya bahkan mereka merasa bahwa kebesaran dan keagungan hanya milik-Nya. Sifat ini tidak mungkin disandang kecuali oleh Allah swt., karena hanya Dia yang berhak dan wajar bersikap demikian. Setiap yang memandang keagungan dan kebesaran hanya miliknya secara khusus tanpa selainnya-maka pandangan tersebut salah kecuali jika yang melakukannya adalah Allah swt.[17]



Al-Khaliq (الخالق)

1.      Diturunkan dari kata khalq, menciptakan, Allah al-Khaliq, Maha Menciptakan, adalah Zat yang menciptakan segala sesuatu setelah ketiadaan mereka. Yang menemukan dan menginovasi tanpa model sebelumnya.[18]
2.      Sebagian ulama mengatakan bahwa al-khaliq adalah Zat yang menciptakan segala sesuatu dari segala kekosongan lalu melimpahkan kepada mereka karakteristik-karakteristik dan sifat-sifat mereka lainnya. Sebagian lain menyatakan bahwa Dialah Zat yang menciptakan apapun yang bisa dipandang mata. Sebagian lainnya juga mengatakan bahwa Dialah Zat yang menentukan kadar segala sesuatu ketika mereka diselimuti dengan kekosongan, menyempurnakan mereka dengan karunia dan kebaikan-Nya, menciptakan mereka menurut kehendak, keinginan dan kebijaksaan-Nya. Barangsiapa yang mengira bahwa ada seseorang selain Dia yang menciptakan maka sesungguhnya ia melakukan kekufuran, murtad, keingkaran dan kutukan.
Al-Bari’ (البا رئ)
1.     Kata al-Bari’ terambil dari akar kata (البرءal-bar’u yang berarti memisahkan sesuatu dari sesuatu. Itu sebabnya bila seseorang sembuh dari penyakit yang ia derita, atau dengan kata lain penyakit dipisahkan dari dirinya maka itu dilukiskan dengan akar kata yang sama. Demikian juga jika tuduhan dipisahkan/dilepaskan dari diri seseorang tersangka maka yang bersangkutan dinamai بريئ) ) Bari’(un). Dengan demikian apabila satu ciptaan dipisahkan sebagian lainnya maka pelakunya dinamai ( بارئBari’. Karena itu tulis az-Zajjaj selanjutnya. Setiap yang diciptakan dalam bentuk tertentu, pasti didahului oleh pengukuran, tidak sebaliknya, karena yang diukur belum tentu dibentuk secara tertentu.
2.     Di sisi lain menurut Imam Ghazali, mewujudkan sesuatu saja, berbeda dengan mewujudkan dengan ukuran  tertentu. Allah sebagai al-Khaliq adalah mewujudkan sesuai dengan ukuran yang ditetapkan-Nya, sedang mewujudkannya saja dari ketiadaan menuju ada- tanpa ukuran- itulah al-Bari’.

Al-Mushawwir (المصور)
1.      Al-Mushawwir adalah Zat Yang Membentuk, Yang Memberi sesuatu bentuk dan wujud khususnya. Bentuk umum manusia berbeda dari bentuk non-manusia. Allah berfirman “..dan Dia membentukmu dan menjadikan bagus bentukmu…”(QS 60:64), “Dalam bentuk apapun Dia Kehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu,”(QS 82:8) “dan Dialah yang membentukmu dalam Rahim (ibumu) sebagaimana yang dikehendaki-Nya.”  (QS 3:6)
2.      “Yang Membentuk Rupa”. Ini pun diperingatkan,yaitu bahwasanya setiap manusia ditentukan oleh wajahnya segala sesuatu ditentukan namanya, jenisnya dan rerumpunannya karena ciri-ciri khas yang ditentukan pada rupanya. Rupa sesuatu menentukan untuk namanya, khususnya manusia; diberi bentuk sendiri, lain dari bentuk makhluk lain.[19]
3.      Menurut Imam Ghazali Allah adalah al-Khaliq karena Dia yang mengukur kadar ciptaan-Nya, Dia al-Bari’ karena Dia menciptakan dan mengadakan dari ketiadaan, Allah adalah al-Mushawwir karena Dia yang memberinya bentuk dan rupa,cara subtansi bagi ciptaan-Nya.[20]



[1] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta, Lentera Hati, 2002), 137
[2] Yasin T. al-Jibouri, Bercermin pada 99 Asma Allah,(Jakarta, Al-Huda,2003), 32
[3]Hamka, Tafsir Al-Azhar,(Singapura, Pustaka Nasional Pte Ltd, 2003) 7281
[4] Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib,
[5] M. Quraish Shihab,Ibid,139
[6]M. Quraish Shihab,Ibid, 140
[7] Yasin T. al-Jibouri,Ibid,36
[8]Ibid
[9] Ibid
[10]Ibid,142
[11] Ibid
[12] Yasin T. al-Jibouri, Ibid, 38
[13]Ibid
[14] Ibid
[15] M. Quraish Shihab,Ibid,144
[16] Hamka, Ibid,7282
[17] M. Quraish Shihab,Ibid,145
[18] Yasin T. al-Jibouri, Ibid, 43
[19] Hamka, Ibid,7283
[20] M. Quraish Shihab,Ibid,149


No comments:

Post a Comment