PENDAHULUAN
Surah
al-Hasyr ayat 22-24 banyak membahas tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah
atau dikenal sebagai Asma’ Al-Husna. Asma’ Al-Husna juga tidak terlepas dari
perdebatan kalam. Dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah khususnya kaum salaf, mereka
berpendapat bahwa kita harus mengakui dan menetapkan semua nama dan sifat Allah
swt yang termaktub al-Qur’an dan Sunnah, tanpa sedikit pun penafian,
penyimpangan, penyerupaan dan penentuan atau hakikatnya.
Kalau
orang-orang Mu’tazilah mengatakan, pengakuan terhadap adanya sifat-sifat pada
Allah seperti hidup, kuasa, marah dan turun dapat membawa kepada taysbih dan
tajsim karena yang memiliki sifat-sifat tersebut hanya yang berjisim, kita juga
dapat mengatakan bahwa yang dinamai dengan hay (yang hidup), alim (yang
mengetahui) dan qadir (yang berkuasa) misalnya, adalah juga berjisim. Karena
itu, Mu’tazilah menafikan adanya nama-nama Allah.
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ
عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ ٢٢ هُوَ ٱللَّهُ
ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ
ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا
يُشۡرِكُونَ ٢٣هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ
ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ
وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤
22. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang
Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang
23. Dialah Allah Yang tiada
Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan
Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang
Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan
24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan,
Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang
di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
Tafsir
Al-Quddus(القدس)
1. Menurut Imam Ghazali, Allah al-Quddus adalah Dia Yang
Maha Suci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh indra, dikhayalkan oleh
imajinasi, diduga oleh waham, atau terlintas dalam nurani dan pikiran.[1]
2. Al-Quddus adalah Zat yang bebas dari
kebutuhan dan sifat-sifat-Nya bebas dari kekurangan. Dialah Zat yang menyucikan
jiwa-jiwa orang yang melawan dosa, yang mengambil orang-orang jahat dari
ubun-ubun mereka, yang terbebas dari ruang waktu.[2]
3. Maha Suci atau Al-Quddus adalah Dia Bersih, karena
tidak ada maksud buruk dalam kekuasaan mutlak itu. Dia Maha Suci sebab Dia pun
bersifat kasih, bersifat sayang. Tidak ada aniaya terhadap hamba-Nya ,sebab
penguasa yang aniaya ialah karena dalam dirinya merasa bahwa orang yang
dianiaya itu akan jadi penghalang kuasanya.[3]
Al-Salam (السلام)
Ada beberapa makna:
1. Bermakna keselamatan dan ia adalah syurga[4]. Dengan sifat As Salam, Allah Swt. menganugerahkan rahmat dan
kasih sayang-Nya kepada semua makhluk dan secara khusus menyelamatkan
orang-orang beriman dari siksa neraka.
2. Al-Salam Allah bermaksud keadaannya yang menjadi penyebab kepada
kesejahteraan/keselamatan.
3. Ibn Al-A’rabi menyatakan bahwa semua ulama bersepakat bahwa nama
as-salam yang dinisbahkan kepada Allah berarti ((ذو السلامة yakni Pemilik as-Salamah, hanya saja-tulisnya lebih
jauh-mereka berbeda memahami istilah ini. Ada yang memahaminya dalam arti Allah
terhindar dari segala aib dan kekurangan, ada juga yang berpendapat bahwa Allah
yang menghindarkan semua makhluk dari penganiayaan-Nya, dan yang lain
berpendapat bahwa as-salim yang dinisbahkan kepada
Allah itu berarti “Yang memberi salam kepada hamba-hamba-Nya di surga kelak”.[5]
4. Al-Ghazali menjelaskan bahwa maknanya adalah keterhindaran Dzat Allah
dari segala aib, sifat-Nya dari segala kekuranganm dan perbuatan-Nya dari
segala kejahatan dan keburukan, sehingga dengan demikian tiada
kedamaian/keterhindaran dari keburukan dan aib yang diraih dan terdapat di
dunia ini kecuali merujuk kepada-Nya dan bersumber dari-Nya.[6]
Al-Mu’min (المؤمن)
1. Al-mu’min berarti Zat yang menyediakan keamanan. Dia
memberikan sarana-sarana pencapaian, menutup semua jalan ketakutan. Tidak ada
kedamaian dalam kehidupan ini selain sebab-sebab penyakit dan kebinasaan, dan
tidak pula keamanan dan kedamaian di kehidupan di akhirat selain siksaan dan
kemurkaan, kecuali bahwa Dia menyediakan sarana-saran untuk memperoleh-Nya.[7]
2. Quraish Shihab cenderung memahami kata Mu’min dalam
arti pemberi rasa aman. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah adalah Pemberi rasa
aman,,antara lain dalam firman-Nya pada QS Quraish [106]:4:” dan Dia
(allah) memberi mereka rasa aman dari ketakutan.” Ayat ini menunjukkan
bahwa kaum kafir pun memperoleh rasa aman, namun tentu saja rasa aman yang
sempurna dirasakan oleh orang-orang mukmin.[8]
3. Pendapat lain tentang makna Mu’min yang menjadi sifat
Allah itu dikemukan oleh asy-Syanqithi. Menurutnya, al-mu’min dapat
dipahami sebagai bermakna pembenaran Allah dalam keimanan hamba-hamba-Nya yang
beriman dan ini mengantar akan diterimanya iman mereka serta tercurahnya
ganjaran kepada mereka. Atau dapat dipahami sebagai pembenaran terhadap apa
yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.[9]
Al-Muhaimin ((المهيمن
1. Ada pendapat berpendapat bahwa kata ini sama dengan kata al-mu’min
karena menurut mereka asal kata (المهيمن) al-muhaimin berasal
dari (المؤامن) al-mua’min. jika
pendapat ini diterima, maka makna kata ini sama dengan makan mu’min yang telah
dijelaskan sebelum ini.[10]
2. Pendapat yang lebih kuat adalah yang mengartikan al-muhaimin sebagai
menjadi saksi terhadap sesuatu serta memeliharanya. Al-Qur’an adalah muhaimin terhadap
kitab-kitab yang lalu yakni jika ada apa yang terdapat di sana tidak
bertentangan dengan yang tercantum dalam al-Qur’an. Sebaliknya ia saksi bagi
kesalahannya, jika bertolak belakang dengan kandungan al-Qur’an. Dengan
kesaksian itu al-Qur’an pun berfungsi sebagai pemelihara.[11]
3. Al-Mibrad menjabarkan sebagai : Zat Yang Mahabaik dan Mahakasih. Bangsa
Arab melukiskan burung yang merentangkan sayapnya untuk melindungi anaknya
sebgai muhaimin atas mereka.[12]
4. Al-Muhaimin adalah Zat yang meliputi pengaturan urusan-urusan semua
penciptaan-Nya dalam pengetahuan-Nya dari atom terkecil hingga planet terbesar
dalam kosmos.[13]
Al-Jabbar (الجبار )
1. Abdullah bin
‘Abbas mengatakan bahwa al-Jabbar adalah Raja yang Agung,
sementara Ibn al- Anbari mengatakan bahwa al-Jabbar adalah Zat
yang berada diluar pencapaian manusia. Yang lain mengatakan bahwa al-jabbar
berarti Zat yang tidak bias diusik oleh penindas kuasa manapun, dan tak seorang
pun bias berselisih dengan-Nya perihal sesuatu.[14]
2. Al-Biqa’I
menafsirkan kata Jabbar dengan “Yang Maha Tinggi” sehingga
memaksa yang rendah untuk tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya dan tidak
terlihat atau terjangkau oleh yang rendah apa yang mereka harapkan untuk diraih
dari sisi-Nya, ketundukkan dan ketidakterjangkauan yang nampak secara amat
jelas.[15]
Al-Mutakabbir (المتكبر)
1. Yang
Membesarkan Diri. Arti yang diambil dari Mutakabbir dan yang
telah menjadi bahasa Melayu (Indonesia) tekebur dari kata takabbur.
Pada Allah memang patutlah sifat itu dan itulah yang layak. Allah itu berhak
buat membesarkan diri-Nya, karena Dia memang Maha Besar (Allahu Akbar).[16]
2. Imam Ghazali
berpendapat bahwa al-Mutakabbir adalah yang memandang
selainnya hina dan rendah, bagai pandangan raja kepada hamba sahayanya bahkan
mereka merasa bahwa kebesaran dan keagungan hanya milik-Nya. Sifat ini tidak
mungkin disandang kecuali oleh Allah swt., karena hanya Dia yang berhak dan
wajar bersikap demikian. Setiap yang memandang keagungan dan kebesaran hanya
miliknya secara khusus tanpa selainnya-maka pandangan tersebut salah kecuali
jika yang melakukannya adalah Allah swt.[17]
Al-Khaliq (الخالق)
1. Diturunkan
dari kata khalq, menciptakan, Allah al-Khaliq, Maha Menciptakan,
adalah Zat yang menciptakan segala sesuatu setelah ketiadaan mereka. Yang
menemukan dan menginovasi tanpa model sebelumnya.[18]
2. Sebagian
ulama mengatakan bahwa al-khaliq adalah Zat yang menciptakan
segala sesuatu dari segala kekosongan lalu melimpahkan kepada mereka
karakteristik-karakteristik dan sifat-sifat mereka lainnya. Sebagian lain
menyatakan bahwa Dialah Zat yang menciptakan apapun yang bisa dipandang mata.
Sebagian lainnya juga mengatakan bahwa Dialah Zat yang menentukan kadar segala
sesuatu ketika mereka diselimuti dengan kekosongan, menyempurnakan mereka
dengan karunia dan kebaikan-Nya, menciptakan mereka menurut kehendak, keinginan
dan kebijaksaan-Nya. Barangsiapa yang mengira bahwa ada seseorang selain Dia
yang menciptakan maka sesungguhnya ia melakukan kekufuran, murtad, keingkaran
dan kutukan.
Al-Bari’ (البا رئ)
1. Kata al-Bari’ terambil
dari akar kata (البرء) al-bar’u yang
berarti memisahkan sesuatu dari sesuatu. Itu sebabnya bila seseorang sembuh
dari penyakit yang ia derita, atau dengan kata lain penyakit dipisahkan dari
dirinya maka itu dilukiskan dengan akar kata yang sama. Demikian juga jika
tuduhan dipisahkan/dilepaskan dari diri seseorang tersangka maka yang
bersangkutan dinamai بريئ) ) Bari’(un). Dengan
demikian apabila satu ciptaan dipisahkan sebagian lainnya maka pelakunya
dinamai ( بارئ) Bari’. Karena
itu tulis az-Zajjaj selanjutnya. Setiap yang diciptakan dalam bentuk tertentu,
pasti didahului oleh pengukuran, tidak sebaliknya, karena yang diukur belum
tentu dibentuk secara tertentu.
2. Di sisi lain
menurut Imam Ghazali, mewujudkan sesuatu saja, berbeda dengan mewujudkan dengan
ukuran tertentu. Allah sebagai al-Khaliq adalah
mewujudkan sesuai dengan ukuran yang ditetapkan-Nya, sedang mewujudkannya saja
dari ketiadaan menuju ada- tanpa ukuran- itulah al-Bari’.
Al-Mushawwir (المصور)
1. Al-Mushawwir adalah Zat Yang Membentuk, Yang Memberi sesuatu bentuk dan wujud
khususnya. Bentuk umum manusia berbeda dari bentuk non-manusia. Allah berfirman
“..dan Dia membentukmu dan menjadikan bagus bentukmu…”(QS 60:64), “Dalam
bentuk apapun Dia Kehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu,”(QS 82:8) “dan
Dialah yang membentukmu dalam Rahim (ibumu) sebagaimana yang
dikehendaki-Nya.” (QS 3:6)
2. “Yang
Membentuk Rupa”. Ini pun diperingatkan,yaitu bahwasanya setiap manusia
ditentukan oleh wajahnya segala sesuatu ditentukan namanya, jenisnya dan
rerumpunannya karena ciri-ciri khas yang ditentukan pada rupanya. Rupa sesuatu
menentukan untuk namanya, khususnya manusia; diberi bentuk sendiri, lain dari
bentuk makhluk lain.[19]
3. Menurut Imam
Ghazali Allah adalah al-Khaliq karena Dia yang mengukur kadar
ciptaan-Nya, Dia al-Bari’ karena Dia menciptakan dan
mengadakan dari ketiadaan, Allah adalah al-Mushawwir karena
Dia yang memberinya bentuk dan rupa,cara subtansi bagi ciptaan-Nya.[20]
[1] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta, Lentera
Hati, 2002), 137
[2] Yasin T. al-Jibouri, Bercermin pada 99 Asma Allah,(Jakarta,
Al-Huda,2003), 32
[3]Hamka, Tafsir Al-Azhar,(Singapura, Pustaka Nasional Pte Ltd,
2003) 7281
[4] Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib,
[5] M. Quraish Shihab,Ibid,139
[6]M. Quraish Shihab,Ibid, 140
[7] Yasin T. al-Jibouri,Ibid,36
[9] Ibid
[10]Ibid,142
[11] Ibid
[12] Yasin T. al-Jibouri, Ibid, 38
[14] Ibid
[15] M. Quraish Shihab,Ibid,144
[16] Hamka, Ibid,7282
[17] M. Quraish Shihab,Ibid,145
[18] Yasin T. al-Jibouri, Ibid, 43
[19] Hamka, Ibid,7283
[20] M. Quraish Shihab,Ibid,149
No comments:
Post a Comment