Wednesday, July 3, 2019

ABU YAZID AL-BUSTHAMI- TASAWUF FALSAFI


ABU YAZID AL-BUSTHAMI

Biografinya

Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Sorushan al-Busthami. Abu Yazid berasal dari Bistham, sebuah kota yang terletak dekat sudut Tenggara laut Kaspia. Ia dilahirkan kurang lebih pada tahun 801 H[1]. nama kecilnya adalah Taifur. Kakeknya bernama Sorushan, seorang Zoroaster yang menjadi pemeluk ISlam di Bustham, timur laut Persia. Keluarga Abu Yazid termasuk berada di daerahnya, tetapi lebih memilih hidup sederhana. Sejak dalam kandungan, konon kabarnya Abu Yazid telah mempunyai kelainan. Ibunya berkata, jika ia menyantap makanan yang diragukan kehalalannya, si janin akan memberontak dan ia pun menjadi muntah[2].
Ketika di usia remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan seorang anak yang patuh mengikuti perintah agama dan berbakti kepada orang tuanya[3]. Suatu waktu gurunya menerangkan suatu ayat dari surah Luqman yang berbunyi, “Bersyukurlah kepada Aku dan kepada kedua orang tuamu”. Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid. Ia kemudian berhenti belajar dan pulang untuk menemui ibunya. Sikapnya ini menggambarkan bahwa dia selalu berusaha untuk memenuhi setiap panggilan Allah.
Perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu telah menjadi seorang faqih dari Mazhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali as-Sindi. Ia mengajarkan berbagai ilmu, di antaranya ilmu tauhid dan ilmu hakikat. Ilmu yang dimilikinya sangat banyak, namun sayang, ajarannya tidak ditemukan dalam bentuk buku.
Dalam menjalani kehidupan zuhun selama tiga belas tahun, Abu Yazid mengembara di sejumlah gurun pasir di Syiria. Ia makan, minum dan tidur sedikit sekali. Hal itu dilakukannya karena semata-semata ingin bertaqarrub kepada Allah dan memperoleh keridhaan-Nya.
Abu Yazid meninggal di Bustham pada tahun 261 H (874 M) pada usia 73 tahun[4]. Ia dimakamkan sejajar dengan al-Hujwiri.
Ajaran Tasawuf Abu Yazid
Dalam ajaran tasawuf yang terpenting dari Abu Yazid adalah fana dan baqa[5]. menurut Harun Nasution, dalam sejarah tasawuf Abu Yazid adalah orang pertama yang menimbulkan fana dan baqa[6]. Dari segi bahasa, fana berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah tasawuf, fana diartikan sebagai keinginan moral yang luhur.
Fana ialah hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang , tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar dan ia telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu.
Pencapaian Abu Yazid ke tahap fana dicapai setelah meninggalkan segala keinginan selain keinginan kepada Allah, seperti tampak dalam kisahnya[7].
Setelah Allah menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar puas dari-Nya. Maka diriku dicap dengan keridhaan-Nya. “Mintalah kepada-Ku semua yang kau ingingkan,” kata-Nya. “Engkaulah yang aku inginkan”, jawabku, “karena Engkau lebih utama daripada anugerah”, lebih besar daripada kemurahan, dan melalui Engkau aku mendapat kepuasan dalam diri-MU..”
Jalan menuju fana menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan. Ia bertanya, “ Bagaimana caranya agar aku dapat sampai pada-Mu?” Tuhan menjawab, “Tinggalkan diri (nafsu) mu dan kemarilah,” Abu Yazid berdiri sendiri sebenarnya pernah melontarkan kata fana pada salah satu ucapannya:
“Aku tahu pada Tuhan melalui diriku hingga aku fana, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku pun hidup”
Adapun baqa’ berasal dari kata baqiya, arti dari segi bahsa adalah tetap, sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Paham baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan paham fana karena keduanya merupakan paham yang berpasangan. Jika seseorang sufi sedang mengalami fana, ketika itu juga dia sedang mengalami baqa’.
Menurut al-Qusyairi baqa’ adalah sebagai berikut[8].
“Barangsiapa yang meninggalkan perbuatan tercela, maka ia sedang fana dari shahwatnya. Tatkala fana dari syahwatnya, ia baqa dalam niat dan keihklasan ibadah;… Barangsiapa yang hatinya zuhud dari keduniaan, maka ia sedang fana dari keinginannya, berarti pula sedang fana dalam ketulusan inabah-nya…”
            Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia melalui tahapan fana dan baqa. Hanya saja dalam literatur klasik, pembahasan tentang ittihad ini tidak ditemukan. Apakah karena pertimbangan keselamatan jiwa ataukah ajaran ini sangat sulit dipraktikkan merupakan pertanyaan yang sangat baik untuk di analisis lebih lanjut.
Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya. Ittihad adalah satu tingkatan ketika seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, satu tingkatan yang menunjukkan bahwa yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata, “Hai aku”.
Dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya ada dua wujud yang berpisah dari satu dari yang lain. Karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad dapat terjadi pertukaran antara yang mencintai dan yang dicintai, atau tegasnya antara sufi dan Tuhan. Dalam ittihad “identitas telah hilang, identitas telah menjadi satu”. sufi yang bersangkutan, karena fananya tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.
Abu Yazid dengan fananya, meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan. Bahwa ia telah berada dekat pada Tuhan dapat dilihat dari syatahat yang diucapakannya. Ucapan-ucapan yang demikian belum pernah didengar dari sufi sebelum Abu Yazid, umpamanya[9]:
“Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu
Karena aku hanyalah hamba yang hina,
Tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku
Karena Engkau adalah Raja Mahakuasa”

Abu Yazid berkata ketika berada dalam tahapan ittihad:
Tuhan berkata: “Semua mereka- kecuali Engkau- adalah makhluk”. “Aku pun berkata, “Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau”
Percakapan pun terputus; kata menjadi satu, bahkan seluruhnya menjadi satu. Dia pun berkata, “Hai Engkau”. aku pun perantaraan-Nya menjawab, “Hai Aku.” Dia berkata, “Engkaulah yang satu?” Aku menjawab, “Akulah yang satu”. Dia berkata lagi, “Engkau adalah Engkau.” Aku balik menjawab, “Aku adalah Aku”.
Sehabis shalat shubuh, Abu Yazid pernah berucap[10] :
“ Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
Suatu ketika seseorang melewati rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu. Abu Yazid bertanya, “Siapa yang engkau cari?” orang itu menjawab, “Abu Yazid” Abu Yazid berkata, “Pergilah, di rumah ini tidak ada, kecuali Allah Yang Mahakuasa dan Mahatinggi”.
Ucapan-ucapan Abu Yazid di atas kalau diperhatikan secara sepintas memberikan kesan syirik kepada Allah. Akan tetap, para sufi yang telah mencapai puncak ma’rifat sebagaimana Abu Yazid memang terkadang sering melontarkan kalimta-kalimat syatahat yang tidak mudah dipahami oleh kalangan awam.



[1]A. Asnawi, “Abu Yazid Al-Bisthami”, Al-Jami’ah Vol. 11, No.11, Mac 1966, 66
[2]Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, (Jakarta, Amzah, 2014), 254
[3]Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf…, 254
[4]A. Asnawi, “Abu Yazid…, 66
[5] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf…, 255
[6] A. Asnawi, “Abu Yazid…, 66
[7] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf…, 255
[8] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf…, 256
[9] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf…, 257
[10] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf…, 258

No comments:

Post a Comment