ABU YAZID AL-BUSTHAMI
Biografinya
Nama
lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Sorushan al-Busthami. Abu Yazid
berasal dari Bistham, sebuah kota yang terletak dekat sudut Tenggara laut
Kaspia. Ia dilahirkan kurang lebih pada tahun 801 H[1].
nama kecilnya adalah Taifur. Kakeknya bernama Sorushan, seorang Zoroaster yang
menjadi pemeluk ISlam di Bustham, timur laut Persia. Keluarga Abu Yazid
termasuk berada di daerahnya, tetapi lebih memilih hidup sederhana. Sejak dalam
kandungan, konon kabarnya Abu Yazid telah mempunyai kelainan. Ibunya berkata,
jika ia menyantap makanan yang diragukan kehalalannya, si janin akan
memberontak dan ia pun menjadi muntah[2].
Ketika di
usia remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan seorang anak yang
patuh mengikuti perintah agama dan berbakti kepada orang tuanya[3].
Suatu waktu gurunya menerangkan suatu ayat dari surah Luqman yang berbunyi,
“Bersyukurlah kepada Aku dan kepada kedua orang tuamu”. Ayat ini sangat
menggetarkan hati Abu Yazid. Ia kemudian berhenti belajar dan pulang untuk
menemui ibunya. Sikapnya ini menggambarkan bahwa dia selalu berusaha untuk
memenuhi setiap panggilan Allah.
Perjalanan
Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum
membuktikan dirinya sebagai seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum
membuktikan dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu telah menjadi
seorang faqih dari Mazhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah
Abu Ali as-Sindi. Ia mengajarkan berbagai ilmu, di antaranya ilmu tauhid dan
ilmu hakikat. Ilmu yang dimilikinya sangat banyak, namun sayang, ajarannya
tidak ditemukan dalam bentuk buku.
Dalam
menjalani kehidupan zuhun selama tiga belas tahun, Abu Yazid mengembara di
sejumlah gurun pasir di Syiria. Ia makan, minum dan tidur sedikit sekali. Hal
itu dilakukannya karena semata-semata ingin bertaqarrub kepada Allah dan
memperoleh keridhaan-Nya.
Abu Yazid
meninggal di Bustham pada tahun 261 H (874 M) pada usia 73 tahun[4].
Ia dimakamkan sejajar dengan al-Hujwiri.
Ajaran
Tasawuf Abu Yazid
Dalam
ajaran tasawuf yang terpenting dari Abu Yazid adalah fana dan baqa[5].
menurut Harun Nasution, dalam sejarah tasawuf Abu Yazid adalah orang pertama
yang menimbulkan fana dan baqa[6].
Dari segi bahasa, fana berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau
lenyap. Dalam istilah tasawuf, fana diartikan sebagai keinginan moral yang
luhur.
Fana ialah
hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang , tidak ada pamrih dari segala
perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan
sesuatu secara sadar dan ia telah menghilangkan semua kepentingan ketika
berbuat sesuatu.
Pencapaian
Abu Yazid ke tahap fana dicapai setelah meninggalkan segala keinginan selain
keinginan kepada Allah, seperti tampak dalam kisahnya[7].
Setelah
Allah menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar puas dari-Nya.
Maka diriku dicap dengan keridhaan-Nya. “Mintalah kepada-Ku semua yang kau
ingingkan,” kata-Nya. “Engkaulah yang aku inginkan”, jawabku, “karena Engkau
lebih utama daripada anugerah”, lebih besar daripada kemurahan, dan melalui
Engkau aku mendapat kepuasan dalam diri-MU..”
Jalan
menuju fana menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan. Ia
bertanya, “ Bagaimana caranya agar aku dapat sampai pada-Mu?” Tuhan menjawab,
“Tinggalkan diri (nafsu) mu dan kemarilah,” Abu Yazid berdiri sendiri
sebenarnya pernah melontarkan kata fana pada salah satu ucapannya:
“Aku
tahu pada Tuhan melalui diriku hingga aku fana, kemudian aku tahu pada-Nya
melalui diri-Nya, maka aku pun hidup”
Adapun baqa’
berasal dari kata baqiya, arti dari segi bahsa adalah tetap, sedangkan
berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada
Allah. Paham baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan paham fana karena keduanya
merupakan paham yang berpasangan. Jika seseorang sufi sedang mengalami fana,
ketika itu juga dia sedang mengalami baqa’.
Menurut
al-Qusyairi baqa’ adalah sebagai berikut[8].
“Barangsiapa
yang meninggalkan perbuatan tercela, maka ia sedang fana dari shahwatnya.
Tatkala fana dari syahwatnya, ia baqa dalam niat dan keihklasan ibadah;…
Barangsiapa yang hatinya zuhud dari keduniaan, maka ia sedang fana dari
keinginannya, berarti pula sedang fana dalam ketulusan inabah-nya…”
Ittihad
adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia melalui tahapan
fana dan baqa. Hanya saja dalam literatur klasik, pembahasan tentang ittihad
ini tidak ditemukan. Apakah karena pertimbangan keselamatan jiwa ataukah ajaran
ini sangat sulit dipraktikkan merupakan pertanyaan yang sangat baik untuk di analisis
lebih lanjut.
Dalam
tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan
yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya. Ittihad adalah satu
tingkatan ketika seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, satu
tingkatan yang menunjukkan bahwa yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi
satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan
kata-kata, “Hai aku”.
Dalam
ittihad yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya ada dua wujud yang
berpisah dari satu dari yang lain. Karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu
wujud, maka dalam ittihad dapat terjadi pertukaran antara yang mencintai dan
yang dicintai, atau tegasnya antara sufi dan Tuhan. Dalam ittihad “identitas telah
hilang, identitas telah menjadi satu”. sufi yang bersangkutan, karena fananya
tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.
Abu Yazid
dengan fananya, meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan. Bahwa ia telah
berada dekat pada Tuhan dapat dilihat dari syatahat yang diucapakannya.
Ucapan-ucapan yang demikian belum pernah didengar dari sufi sebelum Abu Yazid,
umpamanya[9]:
“Aku
tidak heran terhadap cintaku pada-Mu
Karena
aku hanyalah hamba yang hina,
Tetapi
aku heran terhadap cinta-Mu padaku
Karena
Engkau adalah Raja Mahakuasa”
Abu Yazid
berkata ketika berada dalam tahapan ittihad:
Tuhan
berkata: “Semua mereka- kecuali Engkau- adalah makhluk”. “Aku pun berkata,
“Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau”
Percakapan
pun terputus; kata menjadi satu, bahkan seluruhnya menjadi satu. Dia pun
berkata, “Hai Engkau”. aku pun perantaraan-Nya menjawab, “Hai Aku.” Dia
berkata, “Engkaulah yang satu?” Aku menjawab, “Akulah yang satu”. Dia berkata
lagi, “Engkau adalah Engkau.” Aku balik menjawab, “Aku adalah Aku”.
Sehabis
shalat shubuh, Abu Yazid pernah berucap[10] :
“
Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
Suatu
ketika seseorang melewati rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu. Abu Yazid
bertanya, “Siapa yang engkau cari?” orang itu menjawab, “Abu Yazid” Abu Yazid
berkata, “Pergilah, di rumah ini tidak ada, kecuali Allah Yang Mahakuasa dan
Mahatinggi”.
Ucapan-ucapan
Abu Yazid di atas kalau diperhatikan secara sepintas memberikan kesan syirik
kepada Allah. Akan tetap, para sufi yang telah mencapai puncak ma’rifat
sebagaimana Abu Yazid memang terkadang sering melontarkan kalimta-kalimat
syatahat yang tidak mudah dipahami oleh kalangan awam.
No comments:
Post a Comment