Makalah Hadis-hadis Aqidah-Hadis tentang Neraka
Pendahuluan
Neraka adalah
tempat paling mengerikan yang akan dihuni oleh orang-orang yang telah melakukan
banyak dosa. Lawan dari neraka adalah surga, jika di surga terdapat kebahagiaan
yang tak terkira, ternyata di neraka inilah tempat dilakukan nya penyiksaan
sebagai tebusan atau hukuman yang paling menyiksa bagi orang-orang yang
berdosa.
Neraka sendiri saat
ini lebih dikenal dengan gambaran api, padahal neraka sebenarnya tidak hanya
api saja, misalnya saja neraka well yang merupakan tempat paling dingin, bahkan
es yang ada di dunia tidak ada apa-apa nya dibanding dingin nya neraka well.
Neraka memiliki 7
tingkatan, dan setiap tingkatan tersebut memiliki tingkat penyiksaan yang
berbeda, jadi semakin tinggi tingkatan nya, maka semakin dahsyat pula siksaan
nya. Semua dikelompokkan berdasarkan dosa yang dimiliki oleh manusia itu
sendiri. Neraka jahanaam adalah salah satu neraka yang paling banyak dihuni
oleh orang yang memiliki dosa paling besar.
Firman Allah SWT, “Kepada mereka
ditampakkan neraka pada saat pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat”.
(QS. Ghafir: 46)
HADIS TENTANG NERAKA
Proses Penciptaan Neraka
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ
حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ
أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ
Artinya:
“Api neraka dipanaskan selama seribu tahun, sehingga ia me-merah,
kemudian seribu tahun lagi sampai ia me-mutih, lalu seratus tahun lagi, sampai
meng-hitam. Karenanya api neraka itu hitam kelam”[1] (HR Tirmidzi)
Penjelasan:
Pengarang kitab
Tuhfatul Afwadzi menyebutkan : Neraka itu berlapis - lapis, dan yang dipanasi
adalah kesemuanya, di mana satu lapisan dipanasi di bawah lapisan yang lain,
dan seterusnya. Pemakaian wazn “if’alla” dalam penyebutan perubahan warna
neraka menunjukkan betapa sangat panasnya ia (lil mubalaghoh). Sedang
berubahnya api itu hingga menjadi hitam sebagaimana malam, mengandung makna
tahdzir, jangan sampai umat Islam melakukan pekerjaan yang menuju ke arah yang
gelap.
Jika sampai saat
sekarang, kita baru bisa menemukan api biru sebagai api terpanas, maka entah
perlu ribuan atau bahkan jutaan kali lipat usahakah, untuk
menghasilkan api yang warnanya seperti tertulis dalam hadis tersebut.
Panas Api Neraka
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَارُكُمْ
هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ
جَهَنَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهَا مِثْلُ
حَرِّهَا
Artinya:
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi
Muhammad SAW telah bersabda, 'Api yang dinyalakan oleh manusia di dunia ini
hanya sepertujuhpuluh panas neraka Jahanam di akhirat kelak" Para sahabat
bertanya, "Ya Rasulullah, sesungguhnya api di dunia ini sudah cukup panas
bagi kami." Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Api di dunia ini ditambah
enam puluh sembilan kali panas yang sama pada setiap masing-masing dari enam
puluh sembilan kali tersebut, bila dibandingkan dengan panas api neraka."[2](HR Bukhari)
Penjelasan:
Ibnu
Hajar berkata dalam Fathul Bari, “Ath-Thibi” berkata “Pengulangan Nabi terhadap
ceritanya tentang panas api neraka yang dilebihkan daripada api dunia, adalah
isyarat bahwa tentang tidak mungkinnya pai dunia dijadikan sebagai siksaan
orang kafir. Yaitu, sudah barang tentu panasnya harus dilebihkan untuk
membedakan siksaan yang bersumber dari Sang Pencipta dari siksaan yang
bersumber makhluk.[3]
Sesungguhnya
membayangkan tujuh puluh (atau seratus) kali lipat rasa dari api yang pernah
kita temui, sama dengan mengatakan :”jika hanya dengan satu (kali) api, rumah,
kampung, dan hutan bias terbakar, maka tak akan sesuatu di dunia yang tak kan
bisa bertahan dari api yang panasnya seratus kali lipat dari api – api dunia.”
Barangkali inilah makna yang lebih dalam dari dzahir hadis tersebut.
Gejolak Api Neraka
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " لِسُرَادِقِ
النَّارِ أَرْبَعَةُ جَدْرٍ ، كِثَفُ كُلِّ جِدَارٍ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ سَنَةٍ
Artinya:
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa
Rasulullah saw. bersabda, “Gejolak api neraka itu mempunyai empat dinding yang
tebal, setiap dinding jaraknya sejauh perjalanan empat puluh tahun.” (HR at-Tirmidzi)[4]
Penjelasan:
Allah
berfirman, Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu;
maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa
yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan
bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika
mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi
yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan
tempat istirahat yang paling jelek” ( Al-Kahfi: 29)
Dalam
menafsirkan kata as-suradiq (gejolak) secara bahasa, az-zujaj berkata as
suradiq adalah segala sesuatu yang mengelilingi sesuatu seperti kain dalam
tenda besar dan dnding yang menutup sesuatu.
Ibnu
Qutaibah juga berpendapat bahwa, yang gejolaknya mengepung mereka, yakni azab
yang mengepung mereka, seakan-akan ia adalah tenda atau khemah yang dipasang di
atas mereka.
Pengepungan
gejolak api neraka terhadap orang-orang zalim dan musyrikin serupa dengan
pejelasan kami dalam masalah penutupan pntu-pintu jahannam bagi orang-orang
kafir dan musyrik. Juga serupa dengan perkataan seseorang, sesungguhnya gejolak
api neraka ialah dinding yang tak mempunyai pintu.
Pengepungan
kobaran api itu menyebabkan kesedihan, kesusahan, duka cita dan rasa dahaga
karena dahsyatnya.
Setelah
menyebutkan, gejolaknya, Allah berfirman “ dan jika mereka meminta
minum, nescaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih
yang menghanguskan muka”. Hal ini karena gejolak api neraka yang ditutup
dan dikelilingi dinding-dinding akan menambah panas, kobaran dan kekuatan
nyalanya.
Siksaan Penghuni Neraka
عَنْ سَمُرَةَ
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "
إِنَّ مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ
تَأْخُذُهُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى حَنْجَرَتِهِ،
وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى تَرْقُوَتِهِ
Artinya: ”Dari Samurah bin
Jundub RA, bahwa Nabi SAW bersabda: Sebagian dari penghuni neraka itu ada orang
yang terbakar api neraka sampai sebatas kedua mata kakinya, sebagian lagi ada
yang terbakar sampai kedua lututnya, sebagian lagi ada yang terbakar sampai
pusat (pusar)nya dan sebagian lagi ada yang terbakar api neraka sampai kedua
bahunya.” (HR. Muslim)[5]
Neraka Dimasuki oleh Orang-orang yang Zhalim dan Surga Dimasuki oleh
Orang-orang yang Lemah
عن أَبي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ
وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ
وَقَالَتْ الْجَنَّةُ فَمَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ
وَسَقَطُهُمْ وَغِرَّتُهُمْ قَالَ اللَّهُ لِلْجَنَّةِ إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي
أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ
عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ
مِنْكُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ اللَّهُ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى رِجْلَهُ تَقُولُ قَطْ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ
وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا
وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا.
Artinya:
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata,
"Rasulullah SAW telah bersabda, 'Surga dan neraka saling berbangga diri.
Neraka berkata, 'Aku diberi prioritas sebagai tempat orang-orang yang sombong
dan orang-orang perkasa yang bengis.' Surga berkata, "Aku hanya akan
dimasuki orang-orang yang lemah, orang-orang yang tidak cinta dunia, dan
orang-orang yang baik?" Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada
surga, "Sesungguhnya kamu hai surga, adalah rahmat-Ku yang denganmu Aku
memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Ku yang Aku kehendaki." Lalu Allah
Subhanahu wa Ta'ala berkata kepada neraka, "Sesungguhnya kamu hai neraka,
adalah siksa-Ku yang denganmu Aku menyiksa hamba-hamba-Ku yang Aku kehendaki.
Dan masing-masing di antaramu akan memiliki penghuni." Neraka tidak akan
pernah penuh hingga Allah subhanahu wa Ta'ala menginjakkan kaki-Nya. Setelah
itu, neraka akan berkata, "Cukup! Cukup! Cukup!" Itu berarti neraka
menjadi penuh sesak dengan injakan tersebut, hingga para penghuninya saling
berhimpitan. Allah tidak akan berbuat zhalim kepada seorang hamba-Nya. Selain
itu, Allah juga akan menciptakan surga untuk para penghuninya."(HR Muslim)
Penjelasan:
Al-Imam
An-Nawawi berkata, “Hadits ini dipahami secara zhahirnya, bahwa Allah
menjadikan perbedaan bagi yang memasuki dan menjadi penghuni surga dan neraka,
maka mereka berdua saling berdebat. Namun tidak harus perbedaan (yang
disebutkan di dalam hadits tersebut) selamanya seperti itu untuk membedakan
penghuni surga dan neraka”.
“Orang-orang
yang lemah dan rendah.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,”(Lemah dan rendah)
menurut kebanyakkan manusia, sedangkan menurut Allah mereka adalah orang-orang
agung dan berderajat tinggi. Namun jika dipangdang dari sudut pandang mereka
sendiri, ketawadhuan mereka dan ketundukkannya kepada keangungan Allah, serta
merasa hina di hadapanNya, maka mereka disifati sebagai orang yang lemah dan
hina adalah benar.
“Sampai
Allah meletakkan kaki-Nya.” Muhyis Sunnah berkata, “Kaki pada hadits ini adalah
di antara sifat-sifat Allah yang dijauhkan dari pertanyaan bagaimana (takyif)
dan diserupakan dengan makhluk (Tashbih). Maka mengimani sifat tersebut dan
menjauhkan diri dari mendalaminya adalah wajib.
Adapun
surga maka Allah menambah penciptaannnya al-imam-An-Nawawi berkata ini adalah
dalil bagi ahli sunnah bahwa pahala tidak tergantung kepada amal. Mereka
diciptakan pada saat itu, dan diberikan di surga apa yang diberikan pada
mereka, bukan karena amal. Adapun semisal dengannya, yaitu anak-anak dan
orang-orang gila yang tidak masuk islam karena ketaatan, maka mereka semua
berasa di surga karena rahmat Allah dan kurnianya.[6]
Daftar Pustaka
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Seri Ensiklopedia Hari Akhir Surga
dan Neraka(Jakarta, Ummul Qura, 2012)
Arif Rahman Hakim, Kumpulan Hadits Shahih Bukhari-Muslim,
(Solo, Insan Kamil, 2012)
[1] Syaikh Mahir
Ahmad Ash-Shufi, Seri Ensiklopedia Hari Akhir Surga dan Neraka (Jakarta,
Ummul Qura, 2012) 308
No comments:
Post a Comment