Wednesday, July 3, 2019

Makalah Hadis-hadis Aqidah-Hadis tentang Neraka


Makalah Hadis-hadis Aqidah-Hadis tentang Neraka


Pendahuluan
Neraka adalah tempat paling mengerikan yang akan dihuni oleh orang-orang yang telah melakukan banyak dosa. Lawan dari neraka adalah surga, jika di surga terdapat kebahagiaan yang tak terkira, ternyata di neraka inilah tempat dilakukan nya penyiksaan sebagai tebusan atau hukuman yang paling menyiksa bagi orang-orang yang berdosa.
Neraka sendiri saat ini lebih dikenal dengan gambaran api, padahal neraka sebenarnya tidak hanya api saja, misalnya saja neraka well yang merupakan tempat paling dingin, bahkan es yang ada di dunia tidak ada apa-apa nya dibanding dingin nya neraka well.
Neraka memiliki 7 tingkatan, dan setiap tingkatan tersebut memiliki tingkat penyiksaan yang berbeda, jadi semakin tinggi tingkatan nya, maka semakin dahsyat pula siksaan nya. Semua dikelompokkan berdasarkan dosa yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Neraka jahanaam adalah salah satu neraka yang paling banyak dihuni oleh orang yang memiliki dosa paling besar.
Firman Allah SWT, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada saat pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat”. (QS. Ghafir: 46)



















HADIS TENTANG NERAKA
Proses Penciptaan Neraka

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ
Artinya:
Api neraka dipanaskan selama seribu tahun, sehingga ia me-merah, kemudian seribu tahun lagi sampai ia me-mutih, lalu seratus tahun lagi, sampai meng-hitam. Karenanya api neraka itu hitam kelam[1] (HR Tirmidzi)
Penjelasan:
Pengarang kitab Tuhfatul Afwadzi menyebutkan : Neraka itu berlapis - lapis, dan yang dipanasi adalah kesemuanya, di mana satu lapisan dipanasi di bawah lapisan yang lain, dan seterusnya. Pemakaian wazn “if’alla” dalam penyebutan perubahan warna neraka menunjukkan betapa sangat panasnya ia (lil mubalaghoh). Sedang berubahnya api itu hingga menjadi hitam sebagaimana malam, mengandung makna tahdzir, jangan sampai umat Islam melakukan pekerjaan yang menuju ke arah yang gelap.
Jika sampai saat sekarang, kita baru bisa menemukan api biru sebagai api terpanas, maka entah perlu ribuan atau bahkan jutaan kali lipat  usahakah, untuk menghasilkan api yang warnanya seperti tertulis dalam hadis tersebut.

Panas Api Neraka
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا
Artinya:
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi Muhammad SAW telah bersabda, 'Api yang dinyalakan oleh manusia di dunia ini hanya sepertujuhpuluh panas neraka Jahanam di akhirat kelak" Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, sesungguhnya api di dunia ini sudah cukup panas bagi kami." Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Api di dunia ini ditambah enam puluh sembilan kali panas yang sama pada setiap masing-masing dari enam puluh sembilan kali tersebut, bila dibandingkan dengan panas api neraka."[2](HR Bukhari)


Penjelasan:
            Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, “Ath-Thibi” berkata “Pengulangan Nabi terhadap ceritanya tentang panas api neraka yang dilebihkan daripada api dunia, adalah isyarat bahwa tentang tidak mungkinnya pai dunia dijadikan sebagai siksaan orang kafir. Yaitu, sudah barang tentu panasnya harus dilebihkan untuk membedakan siksaan yang bersumber dari Sang Pencipta dari siksaan yang bersumber makhluk.[3]
            Sesungguhnya membayangkan tujuh puluh (atau seratus) kali lipat rasa dari api yang pernah kita temui, sama dengan mengatakan :”jika hanya dengan satu (kali) api, rumah, kampung, dan hutan bias terbakar, maka tak akan sesuatu di dunia yang tak kan bisa bertahan dari api yang panasnya seratus kali lipat dari api – api dunia.” Barangkali inilah makna yang lebih dalam dari dzahir hadis tersebut.

Gejolak Api Neraka

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " لِسُرَادِقِ النَّارِ أَرْبَعَةُ جَدْرٍ ، كِثَفُ كُلِّ جِدَارٍ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ سَنَةٍ
Artinya:
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Gejolak api neraka itu mempunyai empat dinding yang tebal, setiap dinding jaraknya sejauh perjalanan empat puluh tahun.” (HR at-Tirmidzi)[4]

Penjelasan:
Allah berfirman, Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” ( Al-Kahfi: 29)
            Dalam menafsirkan kata as-suradiq (gejolak) secara bahasa, az-zujaj berkata as suradiq adalah segala sesuatu yang mengelilingi sesuatu seperti kain dalam tenda besar dan dnding yang menutup sesuatu.
            Ibnu Qutaibah juga berpendapat bahwa, yang gejolaknya mengepung mereka, yakni azab yang mengepung mereka, seakan-akan ia adalah tenda atau khemah yang dipasang di atas mereka.
            Pengepungan gejolak api neraka terhadap orang-orang zalim dan musyrikin serupa dengan pejelasan kami dalam masalah penutupan pntu-pintu jahannam bagi orang-orang kafir dan musyrik. Juga serupa dengan perkataan seseorang, sesungguhnya gejolak api neraka ialah dinding yang tak mempunyai pintu.
            Pengepungan kobaran api itu menyebabkan kesedihan, kesusahan, duka cita dan rasa dahaga karena dahsyatnya.
            Setelah menyebutkan, gejolaknya, Allah berfirman “ dan jika mereka meminta minum, nescaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka”. Hal ini karena gejolak api neraka yang ditutup dan dikelilingi dinding-dinding akan menambah panas, kobaran dan kekuatan nyalanya.

Siksaan Penghuni Neraka

عَنْ سَمُرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " إِنَّ مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى حَنْجَرَتِهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى تَرْقُوَتِهِ
Artinya: ”Dari Samurah bin Jundub RA, bahwa Nabi SAW bersabda: Sebagian dari penghuni neraka itu ada orang yang terbakar api neraka sampai sebatas kedua mata kakinya, sebagian lagi ada yang terbakar sampai kedua lututnya, sebagian lagi ada yang terbakar sampai pusat (pusar)nya dan sebagian lagi ada yang terbakar api neraka sampai kedua bahunya.” (HR. Muslim)[5]


Neraka Dimasuki oleh Orang-orang yang Zhalim dan Surga Dimasuki oleh Orang-orang yang Lemah

عن أَبي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ فَمَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ وَغِرَّتُهُمْ قَالَ اللَّهُ لِلْجَنَّةِ إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رِجْلَهُ تَقُولُ قَطْ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا.


Artinya:
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW telah bersabda, 'Surga dan neraka saling berbangga diri. Neraka berkata, 'Aku diberi prioritas sebagai tempat orang-orang yang sombong dan orang-orang perkasa yang bengis.' Surga berkata, "Aku hanya akan dimasuki orang-orang yang lemah, orang-orang yang tidak cinta dunia, dan orang-orang yang baik?" Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada surga, "Sesungguhnya kamu hai surga, adalah rahmat-Ku yang denganmu Aku memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Ku yang Aku kehendaki." Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata kepada neraka, "Sesungguhnya kamu hai neraka, adalah siksa-Ku yang denganmu Aku menyiksa hamba-hamba-Ku yang Aku kehendaki. Dan masing-masing di antaramu akan memiliki penghuni." Neraka tidak akan pernah penuh hingga Allah subhanahu wa Ta'ala menginjakkan kaki-Nya. Setelah itu, neraka akan berkata, "Cukup! Cukup! Cukup!" Itu berarti neraka menjadi penuh sesak dengan injakan tersebut, hingga para penghuninya saling berhimpitan. Allah tidak akan berbuat zhalim kepada seorang hamba-Nya. Selain itu, Allah juga akan menciptakan surga untuk para penghuninya."(HR Muslim)

Penjelasan:
            Al-Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini dipahami secara zhahirnya, bahwa Allah menjadikan perbedaan bagi yang memasuki dan menjadi penghuni surga dan neraka, maka mereka berdua saling berdebat. Namun tidak harus perbedaan (yang disebutkan di dalam hadits tersebut) selamanya seperti itu untuk membedakan penghuni surga dan neraka”.
            “Orang-orang yang lemah dan rendah.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,”(Lemah dan rendah) menurut kebanyakkan manusia, sedangkan menurut Allah mereka adalah orang-orang agung dan berderajat tinggi. Namun jika dipangdang dari sudut pandang mereka sendiri, ketawadhuan mereka dan ketundukkannya kepada keangungan Allah, serta merasa hina di hadapanNya, maka mereka disifati sebagai orang yang lemah dan hina adalah benar.
            “Sampai Allah meletakkan kaki-Nya.” Muhyis Sunnah berkata, “Kaki pada hadits ini adalah di antara sifat-sifat Allah yang dijauhkan dari pertanyaan bagaimana (takyif) dan diserupakan dengan makhluk (Tashbih). Maka mengimani sifat tersebut dan menjauhkan diri dari mendalaminya adalah wajib.
            Adapun surga maka Allah menambah penciptaannnya al-imam-An-Nawawi berkata ini adalah dalil bagi ahli sunnah bahwa pahala tidak tergantung kepada amal. Mereka diciptakan pada saat itu, dan diberikan di surga apa yang diberikan pada mereka, bukan karena amal. Adapun semisal dengannya, yaitu anak-anak dan orang-orang gila yang tidak masuk islam karena ketaatan, maka mereka semua berasa di surga karena rahmat Allah dan kurnianya.[6]



























Daftar Pustaka

Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Seri Ensiklopedia Hari Akhir Surga dan Neraka(Jakarta, Ummul Qura, 2012)
Arif Rahman Hakim, Kumpulan Hadits Shahih Bukhari-Muslim, (Solo, Insan Kamil, 2012)




[1] Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Seri Ensiklopedia Hari Akhir Surga dan Neraka (Jakarta, Ummul Qura, 2012) 308
[2]Arif Rahman Hakim, Kumpulan Hadits Shahih Bukhari-Muslim, (Solo, Insan Kamil, 2012) 895
[3]Ibid
[4] Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Ibid, 310
[5] Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Ibid, 315
[6] Arif Rahman Hakim, Ibid, 896


No comments:

Post a Comment