PENDAHULUAN
Kita mengetahui bahwa filsafat islam itu terjadi atas
adanya kontak dari filsafat yunani. Sebagai contoh Hasil dari Filsafat Yunani
maka lahirlah tokoh filsafat islam seperti al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina,
al-farabi dan sebagainya. Yang mana filsafat mereka masih diguna dan dikaji
sehingga harini ini, sejalan dengan tokoh-tokoh filosof yunani.
Makanya didalam makalah ini kami membahas bagaimana
berlakunya kontak diantara kebudayaan yunani dan islam.
PEMBAHASAN
INTEGRASI DUA BUDAYA BESAR
ISLAM DAN YUNANI
PENGERTIAN
Budaya
Budaya atau kebudayaan
berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi; diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Budaya
merupakan suatu hal yang bisa dijadikan identitas unik dan khas bagi suatu
daerah.
Yunani (kuno)
Yunani kuno adalah peradaban dalam sejarah Yunani yang
dimulai dari periode Yunani Arkais pada abad ke-8 sampai ke-6 SM, hingga
berakhirnya Zaman Kuno dan dimulainya Abad Pertengahan Awal. Peradaban ni
dianggap merupakan peletak dasar bagi Peradaban Barat.
Islam
Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada nabi
Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup
seluruh manusia hingga akhir zaman. Islam diwahyukan pada mulanya ke dalam satu
budaya Arab di Hijaz[1].
SEJARAH PERTEMUAN DUA BUDAYA ISLAM DAN YUNANI
Penaklukan Iskandariah pada 641 memperluas kekuasaan
bangsa Arab atas Timur Tengah. Sejak diperintah oleh Iskandar Agung, kawasan
Timur Tengah seperti Mesir, Suriah dan Irak menjadi taman peradaban Yunani.
Jatuhnya Iskandariah, yang selama periode Ptolemy I menggantikan posisi Athena
sebagai lumbung filsafat dan sains, membawa bangsa Arab untuk bersentuhan
langsung dengan peradaban Yunani dan peradaban-peradaban Timur Tengah lain[2].
Kota Iskandariah dibangun oleh Alexander Agung sebagai
pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan mengingat letak geografinya yang
strategis antara Timur dan Barat, maka sebagian besar karya-karya ahli Yunani
disusun di kota tersebut, sehingga perpustakaan kota ini menghimpun ratusan
ribu karya dalam berbagai bidang[3].
Oleh itu, banyak filosof dan ahli pikir berkumpul dan lahir di kota ini.
Ketika zaman bani Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani
terhadap Islam belum kelhatan karena perhatian banyak tertumpu pada kebudayaan
Arab. Kebudayaan Yunani mulai terlihat ketika pemerintahan Bani Abbasiyah yang
mana orang berpengaruh dalam pemerintahan bukan lagi orang Arab melainkan orang
Persia yang telah lama berkecimpung dengan kebudayaan Yunani.
Pada zaman dinasti Bani Abbas, meskipun minat
pengetahuan filsafat telah dimulai oleh kedua khalifah sebelumnya, yaitu
al-Manshur dan Harun al-Rasyid, namun khalifah al-Ma’munlah yang sebenarnya
yang mendirikan Bait al-Hikmah atau Balai Kebijaksanaan yang amat masyhur,
suatu lembaga dan perpustakaan rasional untuk kegiatan penerjemahan dan
penelitian[4].
Untuk menyediakan dan melengkap perpustakaan itu dengan karya-karya ilmiah dan
filosofis, al-Ma’mun mengirim utusan ke Bizantium untuk mencari dan memperoleh
buku-buku klasik yang kemudian diserahkan kepada sekelompok sarjana untuk
diterjemahkan.
Bait al-Hikmah
dipimpin oleh Hunain bin Ishaq, seorang Nashrani yang ahli bahasa Yunani,
dibantu oleh Yahya Ibn Miskawaih, Sabit Ibn Qurra, Qusta ibn Luqas
al-Ba’labaki, Ishaq bin Hunain, Hubaysh ibn al-Hasni, Abu Bishr Matta ibn
Yunus, Abu Zakaria Ibn ‘Adi, Al-Kindi, dll[5].
Di samping kota Baghdad, juga ada kota-kota lain yang
dijadikan sebagai pusat pengembangan sains dan filsafat, yaitu kota Marwa
(Persia Tengah), Jundisyapur dan Harran. Masing-masing kota tersebut mempunyai
kecenderungan. Di kota Marwa lebih banyak diterjemahkan buku-buku ilmiah di
bidang matematika dan astronomi. Di kota Jundisyapur cenderung penerjemahan
menyangkut obat-obatan dan kedokteran. Sedangkan di Kota Harran lebih meminati
buku-buku filsafat dan kedokteran.
LAHIRNYA FILSAFAT
Menurut Muhaimin masuknya filsafat Yunani ke dunia
Islam dengan berbagai hal antara lain;
1.
.Kontak Tidak Sengaja
Sebenarnya masuknya filsafat Yunani ke dalam dunia
Islam juga terjadi secara tidak sengaja, dalam arti bahwa umat Islam tidak
sengaja mencari filsafat Yunani untuk dipelajari. Masuknya filsafat Yunani ke
dunia Islam terjadi secara alami, sebagai hasil interaksi antar masyarakat
Islam dengan bangsa Syiria, Persia, dengan
wilayah lain yang secara tidak langsung telah membahas ilmu kedokteran, kimia
dalam ke Islam[6].
Yang pertama dipelajari oleh umat Islam adalah Ilmu
Kedokteran. Hal ini terjadi pada khalifah Marwan bin Hakam (64-65 H) ketika
dokter Maserqueh menerjemahkan kitab Pastur Ahran bin Ayun, yang berbahasa
Suryani ke dalam bahasa Arab. Kitab ini disimpan di perpustakaan sampai
masa pemerintahan Umar bin Abd al-Aziz
(99-101 H). Umar bin Abd al-Aziz beristikharah dahulu untuk mengeluarkan kitab
ini agar dimanfaatkan dan diambil faedahnya bagi umat Islam. Dalam riwayat lain
ada yang mengatakan bahwa penerjemah yang pertama kali dalam Islam dilakukan
oleh Khalid bin Yazid al-Amawi (85 H) yang memerintah menerjemahkan kitab-kitab
kimia ke dalam bahasa Arab.
2.
Masuknya Filsafat Yunani Melalui Kegiatan Terjemahan
Al-Makmum memprakarsai penerjemahan tersebut dengan
dua alasan utama, yaitu; pertama, banyaknya perdebatan mengenai soal-soal agama
antara kaum muslimin di satu pihak dengan kaum Yahudi dan Nasrani di pihak lain.
Untuk menghadapi perdebatan tersebut, mereka memerlukan filsafat Yunani agar
dalil-dalil dan pengaturan alasan bisa disusun dengan sebaik-baiknya, sehingga
mengimbangi lawan-lawannya yang terkenal memakai ilmu Yunani terutama logika;
kedua, banyaknya kepercayaan dan pikiran-pikiran Iran yang masuk kepada kaum
muslimin, orang-orang Iran dalam menguatkan kepercayaan memakai ilmu berpikir
yang didasarkan atas filsafat Yunani[7].
Di zaman Bani Umayyah, karena perhatian banyak tertuju
pada kebudayaan Arab, maka pengaruh itu baru nyata atau kelihatan pada masa
Bani Abbas, karena yang berpengaruh di pusat pemerintahan bukan lagi orang
Arab, tetapi orang- orang Persia, seperti keluarga Baramikan, yang telah lama
berkecimpung dalam kebudayaan Yunani[8].
Secara umum, penerjemahan filsafat Yunani ke dalam
Islam terbagi dalam dua tahapan utama, yaitu: Pertama, penerjemahan secara
tidak langsung, dalam arti filsafat Yunani diterjemahkan dalam bahasa Arab
melalui tangan kedua, yaitu dibawah pengaruh Plotinus, Suriah, dan dari
tangan-tangan para filosof di Yundi Shapur. Dalam terjemahan ini juga dilakukan
oleh orang-orang ahli bahasa Suryani, Syiria dan Persi yang kebanyakan para
penerjemahnya terdiri dari orang- orang Nasrani. Kedua, setelah para ahli atau
pemikir Islam mengenal filsafat Yunani lewat penerjemahan tersebut, mereka baru
mengadakan pensyarahan yang pada giliran selanjutnya mampu melahirkan filosof
muslim sendiri seperti: al- Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan
sebagainya.
Puncak penerjemahan tersebut terjadi pada masa
khalifah al-Makmum yang pada tahun 215 Harun mendirikan Bait al-Hikmah,
di mana para penerjemahnya dan pimpinannya ditangani oleh orang-orang yang
menguasai bahasa Suryani, Yunani, dan bahasa Arab dengan baik, dan pimpinan Bait
al-Hikmah ini dipegang oleh Hunai Ibn Ishaq.
Adapun para tokoh penerjemah populer pada saat itu
ialah: Ibnu al- Muqaffa’, lahir di Persia pada tahun 724 M, wafat di Basrah
tahun 759 M. Hunain Ibnu Ishaq (809/810-876), seorang ahli bahasa Yunani,
Suryani, dan Arab. Ishaq bin Hunain, wafat tahun 910/911 M, seorang dokter,
penerjemah filsafat Yunani dan Suryani, Yohana Ibn Bitrik; Abdul masih Ibn
Abdullah Naiman al-Hismi (835 M); Qasta Ibn Luqa al-Balabaki (835 M); Abu Mist
Matta Ibnu Yunus al-Qaunani (w. 940 M); Abu Zakaria Yahya Ibn Adi al-Mantiqi
(w. 974 M); Abu al-Khair al- Hasan Ibn al-Khammas (1942 M)[9].
Para penerjemah tersebut telah banyak menerjemahkan
filsafat Yunani, dengan tiga pemikir utama yang ditampilkan di sini, terutama
yang banyak mempengaruhi para pemikir Islam yaitu Plato, Aristoteles, dan
Neo-Platonisme.
3.
Pengaruh Filsafat Yunani dalam Pemikiran Islam
Masuknya filsafat Yunani dalam Islam serta pemikiran
mereka dalam bidang pengetahuan, seperti kedokteran, kimia astronomi,
matematika, telah membangkitkan umat Islam untuk mempelajari berbagai ilmu
pengetahuan tersebut secara mendalam, serta sempat menumbuhkan ghairah umat
untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam dan filsafat. Pengaruh ini tidak hanya
terbatas pada bidang filsafat dan ilmu pengetahuan alam, melainkan telah
menyentuh seluruh aspek dalam pemikiran umat Islam, seperti bidang ilmu kalam,
fikih, tafsir, dan tasawuf[10].
Dalam bidang Ilmu Kalam, muncul persoalan kedudukan
akal di samping wahyu dalam menemukan kebenaran, apakah Tuhan mempunyai sifat
atau tidak. Dalam bidang Ilmu Fikih muncul pula persoalan yang serupa, yaitu
apakah seseorang dapat menetapkan hukum dengan mendasarkan pada ijtihad akal,
masalah penggunaan qiyas (analogi) dalam bidang tafsir, apakah seseorang dapat
menafsirkan menakwilkan ayat. Dan dalam bidang tasawuf muncul persoalan-
persoalan di sekitar filsafat nilai, masalah martabat dalam tarekat yang dekat
dengan masalah teori emanasi.
Masuknya filsafat tersebut juga telah melahirkan
filosof-filosof muslim yang terkenal dalam dunia Barat dan Timur, antara lain:
Al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Bajah, Ibnu
Thufail, Ikhwanushafa, Ibnu Maskawaih dan lain-lainnya. Namun hal itu bukan
berarti bahwa semua pemikir Islam menerima pemikiran Yunani tersebut. Al-Ghazali
misalnya, telah menolak hasil-hasil pemikiran filosof muslim yang didasarkan
atas pemikiran Yunani, yang nyata-nyata bertentangan dengan ajaran Islam, dalam
bukunya Tahafuth al- Falasifah. Selanjutnya Ibnu Rusyd membela filosof muslim
dan menolak kesimpukan al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Tahafut.
KESIMPULAN
Pemikiran filsafat sudah tentu berpengaruh oleh
peradaban Islam, meskipun pemikiran itu banyak sumbernya dan berbeda-beda jenis
orangnya.
Dalam filsafat Islam tentu seluruhnya adalah muslim.
Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain.
Pertama, meski semula filosof muslim klasik menggali kembali karya filsafat
Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan
ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain
masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan’
DAFTAR PUSTAKA
Saparuddin Rambe, Persentuhan Islam dengan
Peradaban Yunani dan Persia Sebagai Latar Belakang Tumbuhnya Kajian Filsafat,
Al-Ikhtibar Vol.3 No. 2, 2016
Zaprulkhan, Filsafat Islam; Sebuah Kajian Tematik,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2014)
Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta:
Gaya Media Pratama, 1999)
Harun
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)
Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum (Bandung: Citapustaka
Media, 2011)
[1]Saparuddin
Rambe, Persentuhan Islam dengan Peradaban Yunani dan Persia Sebagai Latar
Belakang Tumbuhnya Kajian Filsafat, Al-Ikhtibar Vol.3 No. 2, 2016, 22
No comments:
Post a Comment