Wednesday, July 3, 2019

makalah integrasi dua budaya Yunani dan Islam


PENDAHULUAN

Kita mengetahui bahwa filsafat islam itu terjadi atas adanya kontak dari filsafat yunani. Sebagai contoh Hasil dari Filsafat Yunani maka lahirlah tokoh filsafat islam seperti al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-farabi dan sebagainya. Yang mana filsafat mereka masih diguna dan dikaji sehingga harini ini, sejalan dengan tokoh-tokoh filosof yunani.
Makanya didalam makalah ini kami membahas bagaimana berlakunya kontak diantara kebudayaan yunani dan islam.
PEMBAHASAN

INTEGRASI DUA BUDAYA BESAR ISLAM DAN YUNANI

PENGERTIAN

Budaya
Budaya atau kebudayaan  berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi; diartikan  sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Budaya merupakan suatu hal yang bisa dijadikan identitas unik dan khas bagi suatu daerah.

Yunani (kuno)
Yunani kuno adalah peradaban dalam sejarah Yunani yang dimulai dari periode Yunani Arkais pada abad ke-8 sampai ke-6 SM, hingga berakhirnya Zaman Kuno dan dimulainya Abad Pertengahan Awal. Peradaban ni dianggap merupakan peletak dasar bagi Peradaban Barat.

Islam
Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman. Islam diwahyukan pada mulanya ke dalam satu budaya Arab di Hijaz[1].


SEJARAH PERTEMUAN DUA BUDAYA ISLAM DAN YUNANI
Penaklukan Iskandariah pada 641 memperluas kekuasaan bangsa Arab atas Timur Tengah. Sejak diperintah oleh Iskandar Agung, kawasan Timur Tengah seperti Mesir, Suriah dan Irak menjadi taman peradaban Yunani. Jatuhnya Iskandariah, yang selama periode Ptolemy I menggantikan posisi Athena sebagai lumbung filsafat dan sains, membawa bangsa Arab untuk bersentuhan langsung dengan peradaban Yunani dan peradaban-peradaban Timur Tengah lain[2].
Kota Iskandariah dibangun oleh Alexander Agung sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan mengingat letak geografinya yang strategis antara Timur dan Barat, maka sebagian besar karya-karya ahli Yunani disusun di kota tersebut, sehingga perpustakaan kota ini menghimpun ratusan ribu karya dalam berbagai bidang[3]. Oleh itu, banyak filosof dan ahli pikir berkumpul dan lahir di kota ini.
Ketika zaman bani Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum kelhatan karena perhatian banyak tertumpu pada kebudayaan Arab. Kebudayaan Yunani mulai terlihat ketika pemerintahan Bani Abbasiyah yang mana orang berpengaruh dalam pemerintahan bukan lagi orang Arab melainkan orang Persia yang telah lama berkecimpung dengan kebudayaan Yunani.
Pada zaman dinasti Bani Abbas, meskipun minat pengetahuan filsafat telah dimulai oleh kedua khalifah sebelumnya, yaitu al-Manshur dan Harun al-Rasyid, namun khalifah al-Ma’munlah yang sebenarnya yang mendirikan Bait al-Hikmah atau Balai Kebijaksanaan yang amat masyhur, suatu lembaga dan perpustakaan rasional untuk kegiatan penerjemahan dan penelitian[4]. Untuk menyediakan dan melengkap perpustakaan itu dengan karya-karya ilmiah dan filosofis, al-Ma’mun mengirim utusan ke Bizantium untuk mencari dan memperoleh buku-buku klasik yang kemudian diserahkan kepada sekelompok sarjana untuk diterjemahkan.
Bait al-Hikmah dipimpin oleh Hunain bin Ishaq, seorang Nashrani yang ahli bahasa Yunani, dibantu oleh Yahya Ibn Miskawaih, Sabit Ibn Qurra, Qusta ibn Luqas al-Ba’labaki, Ishaq bin Hunain, Hubaysh ibn al-Hasni, Abu Bishr Matta ibn Yunus, Abu Zakaria Ibn ‘Adi, Al-Kindi, dll[5].
Di samping kota Baghdad, juga ada kota-kota lain yang dijadikan sebagai pusat pengembangan sains dan filsafat, yaitu kota Marwa (Persia Tengah), Jundisyapur dan Harran. Masing-masing kota tersebut mempunyai kecenderungan. Di kota Marwa lebih banyak diterjemahkan buku-buku ilmiah di bidang matematika dan astronomi. Di kota Jundisyapur cenderung penerjemahan menyangkut obat-obatan dan kedokteran. Sedangkan di Kota Harran lebih meminati buku-buku filsafat dan kedokteran.



LAHIRNYA FILSAFAT
Menurut Muhaimin masuknya filsafat Yunani ke dunia Islam dengan berbagai hal antara lain;

1.        .Kontak Tidak Sengaja
Sebenarnya masuknya filsafat Yunani ke dalam dunia Islam juga terjadi secara tidak sengaja, dalam arti bahwa umat Islam tidak sengaja mencari filsafat Yunani untuk dipelajari. Masuknya filsafat Yunani ke dunia Islam terjadi secara alami, sebagai hasil interaksi antar masyarakat Islam dengan bangsa Syiria,  Persia, dengan wilayah lain yang secara tidak langsung telah membahas ilmu kedokteran, kimia dalam ke Islam[6].
Yang pertama dipelajari oleh umat Islam adalah Ilmu Kedokteran. Hal ini terjadi pada khalifah Marwan bin Hakam (64-65 H) ketika dokter Maserqueh menerjemahkan kitab Pastur Ahran bin Ayun, yang berbahasa Suryani ke dalam bahasa Arab. Kitab ini disimpan di perpustakaan sampai masa  pemerintahan Umar bin Abd al-Aziz (99-101 H). Umar bin Abd al-Aziz beristikharah dahulu untuk mengeluarkan kitab ini agar dimanfaatkan dan diambil faedahnya bagi umat Islam. Dalam riwayat lain ada yang mengatakan bahwa penerjemah yang pertama kali dalam Islam dilakukan oleh Khalid bin Yazid al-Amawi (85 H) yang memerintah menerjemahkan kitab-kitab kimia ke dalam bahasa Arab.

2.        Masuknya Filsafat Yunani Melalui Kegiatan Terjemahan
Al-Makmum memprakarsai penerjemahan tersebut dengan dua alasan utama, yaitu; pertama, banyaknya perdebatan mengenai soal-soal agama antara kaum muslimin di satu pihak dengan kaum Yahudi dan Nasrani di pihak lain. Untuk menghadapi perdebatan tersebut, mereka memerlukan filsafat Yunani agar dalil-dalil dan pengaturan alasan bisa disusun dengan sebaik-baiknya, sehingga mengimbangi lawan-lawannya yang terkenal memakai ilmu Yunani terutama logika; kedua, banyaknya kepercayaan dan pikiran-pikiran Iran yang masuk kepada kaum muslimin, orang-orang Iran dalam menguatkan kepercayaan memakai ilmu berpikir yang didasarkan atas filsafat Yunani[7].
Di zaman Bani Umayyah, karena perhatian banyak tertuju pada kebudayaan Arab, maka pengaruh itu baru nyata atau kelihatan pada masa Bani Abbas, karena yang berpengaruh di pusat pemerintahan bukan lagi orang Arab, tetapi orang- orang Persia, seperti keluarga Baramikan, yang telah lama berkecimpung dalam kebudayaan Yunani[8].
Secara umum, penerjemahan filsafat Yunani ke dalam Islam terbagi dalam dua tahapan utama, yaitu: Pertama, penerjemahan secara tidak langsung, dalam arti filsafat Yunani diterjemahkan dalam bahasa Arab melalui tangan kedua, yaitu dibawah pengaruh Plotinus, Suriah, dan dari tangan-tangan para filosof di Yundi Shapur. Dalam terjemahan ini juga dilakukan oleh orang-orang ahli bahasa Suryani, Syiria dan Persi yang kebanyakan para penerjemahnya terdiri dari orang- orang Nasrani. Kedua, setelah para ahli atau pemikir Islam mengenal filsafat Yunani lewat penerjemahan tersebut, mereka baru mengadakan pensyarahan yang pada giliran selanjutnya mampu melahirkan filosof muslim sendiri seperti: al- Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan sebagainya.
Puncak penerjemahan tersebut terjadi pada masa khalifah al-Makmum yang pada tahun 215 Harun mendirikan Bait al-Hikmah, di mana para penerjemahnya dan pimpinannya ditangani oleh orang-orang yang menguasai bahasa Suryani, Yunani, dan bahasa Arab dengan baik, dan pimpinan Bait al-Hikmah ini dipegang oleh Hunai Ibn Ishaq.
Adapun para tokoh penerjemah populer pada saat itu ialah: Ibnu al- Muqaffa’, lahir di Persia pada tahun 724 M, wafat di Basrah tahun 759 M. Hunain Ibnu Ishaq (809/810-876), seorang ahli bahasa Yunani, Suryani, dan Arab. Ishaq bin Hunain, wafat tahun 910/911 M, seorang dokter, penerjemah filsafat Yunani dan Suryani, Yohana Ibn Bitrik; Abdul masih Ibn Abdullah Naiman al-Hismi (835 M); Qasta Ibn Luqa al-Balabaki (835 M); Abu Mist Matta Ibnu Yunus al-Qaunani (w. 940 M); Abu Zakaria Yahya Ibn Adi al-Mantiqi (w. 974 M); Abu al-Khair al- Hasan Ibn al-Khammas (1942 M)[9].
Para penerjemah tersebut telah banyak menerjemahkan filsafat Yunani, dengan tiga pemikir utama yang ditampilkan di sini, terutama yang banyak mempengaruhi para pemikir Islam yaitu Plato, Aristoteles, dan Neo-Platonisme.

3.        Pengaruh Filsafat Yunani dalam Pemikiran Islam
Masuknya filsafat Yunani dalam Islam serta pemikiran mereka dalam bidang pengetahuan, seperti kedokteran, kimia astronomi, matematika, telah membangkitkan umat Islam untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan tersebut secara mendalam, serta sempat menumbuhkan ghairah umat untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam dan filsafat. Pengaruh ini tidak hanya terbatas pada bidang filsafat dan ilmu pengetahuan alam, melainkan telah menyentuh seluruh aspek dalam pemikiran umat Islam, seperti bidang ilmu kalam, fikih, tafsir, dan tasawuf[10].
Dalam bidang Ilmu Kalam, muncul persoalan kedudukan akal di samping wahyu dalam menemukan kebenaran, apakah Tuhan mempunyai sifat atau tidak. Dalam bidang Ilmu Fikih muncul pula persoalan yang serupa, yaitu apakah seseorang dapat menetapkan hukum dengan mendasarkan pada ijtihad akal, masalah penggunaan qiyas (analogi) dalam bidang tafsir, apakah seseorang dapat menafsirkan menakwilkan ayat. Dan dalam bidang tasawuf muncul persoalan- persoalan di sekitar filsafat nilai, masalah martabat dalam tarekat yang dekat dengan masalah teori emanasi.
Masuknya filsafat tersebut juga telah melahirkan filosof-filosof muslim yang terkenal dalam dunia Barat dan Timur, antara lain: Al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, Ikhwanushafa, Ibnu Maskawaih dan lain-lainnya. Namun hal itu bukan berarti bahwa semua pemikir Islam menerima pemikiran Yunani tersebut. Al-Ghazali misalnya, telah menolak hasil-hasil pemikiran filosof muslim yang didasarkan atas pemikiran Yunani, yang nyata-nyata bertentangan dengan ajaran Islam, dalam bukunya Tahafuth al- Falasifah. Selanjutnya Ibnu Rusyd membela filosof muslim dan menolak kesimpukan al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Tahafut.



KESIMPULAN
Pemikiran filsafat sudah tentu berpengaruh oleh peradaban Islam, meskipun pemikiran itu banyak sumbernya dan berbeda-beda jenis orangnya.
Dalam filsafat Islam tentu seluruhnya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filosof muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan’



DAFTAR PUSTAKA

Saparuddin Rambe, Persentuhan Islam dengan Peradaban Yunani dan Persia Sebagai Latar Belakang Tumbuhnya Kajian Filsafat, Al-Ikhtibar Vol.3 No. 2, 2016
Zaprulkhan, Filsafat Islam; Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014)
Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999)
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)
 Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum (Bandung: Citapustaka Media, 2011)




[1]Saparuddin Rambe, Persentuhan Islam dengan Peradaban Yunani dan Persia Sebagai Latar Belakang Tumbuhnya Kajian Filsafat, Al-Ikhtibar Vol.3 No. 2, 2016, 22
[2]Zaprulkhan, Filsafat Islam; Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 11
[3] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), 9
[4] Zaprulkhan, Filsafat Islam; Sebuah…, 11
[5] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam…, 12
[6] Saparuddin Rambe, Persentuhan Islam dengan…, 28
[7] Saparuddin Rambe, Persentuhan Islam dengan…, 28
[8] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), 46
[9] Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum (Bandung: Citapustaka Media, 2011), 318
[10] Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum …, 319

No comments:

Post a Comment