INDERA
Pengertian
Indera sendiri adalah alat fungsi yang vital atau yang dibutuhkan oleh setiap
manusia sesuai dengan batasan-batasannya. Dalam hal ini manusia mengenal 5
Panca Indera, yaitu : Indera Peraba (Tangan), Indera Pengecap (Lidah), Indera Penglihat
(Mata), Indera Penghisap Oksigen / Pembuang Karbondioksida (Hidung) dan Indera
Pendengar (Telinga). Indera adalah salah satu alat untuk memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan.
Firman
Allah SWT : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia memberikanmu pendengaran, Penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur (QS, 16:78).
AKAL
Akal
atau dari bahasa Arab “aql” secara harfiah berarti mengikat dan memahami
hal-hal lain. Alasan lain adalah pemahaman tentang kekuatan pikiran (untuk
memahami sesuatu), kemampuan untuk melihat bagaimana memahami lingkungan atau
dengan kata lain dari pikiran dan kenangan.
Akal
merupakan sumber ilmu, tempat timbul ilmu dan sendi ilmu. Ilmu berlaku dari
akal, sebagaimana berlakunya buah-buahan dari pohon kayu, sinar dari matahari
dan penglihatan dari mata.[1] Akal itu seolah-olah
nur (cahaya) yang dimasukkan ke dalam hati yang disediakan untuk mengetahui
macam-macam hal.[2]
Firman
Allah SWT : “Dikeluarkan mereka oleh Tuhan dari kegelapan (kebodohan) kepada
nur-cahaya (ilmu pengetahuan).[3]
Dalam
pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti
kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern
disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal,
menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan
masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan
berfikir
HATI
Hati dalam bahasa
arabnya disebut “ qalb”. Menurut ilmu biologi qalbu adalah segumpal darah yang
terletak di dalam rongga dada, agak sebelah kiri, warnanya agak kecoklatan dan
berbentuk segi tiga. Hati (materi) menjadi objek
pembahasan Biologi, sedangkan hati (immateri) menjadi objek bahasan ilmu
tasawuf.
Tentang hati
yang imateri ini dikatakan oleh imam Al-Ghozali di dalam kitab Ihya Ulumiddin :
“yakni suatu kurnia Tuhan yang halus dan indah bersifat immateri, yang ada
hubungannya dengan hati materi. Yang halus dan indah itulah yang menjadi
hakekat kemanusiaan dan yang mengenal dan mengetahui segala sesuatu, hati juga
yang menjadi sasaran perintah, sasaran cela, sasaran hukuman dan tuntutan dari
Tuhan. Ia mempunyai hubungan dengan materi. Hubungan ini sangat menakjubkan
akal tentang caranya. Perhubungan ini penaka hubungan gaya dengan jizim dan
hubungan sifat dengan tempat lekatnya atau seperti hubungan pemakai alat dengan
alatnya, atau bagai hubungan benda dengan ruang.”
Menurut
ajaran tassawuf, komunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan melalui daya rasa
manusia yang berpusat di hati sanubari. Dalam tasawuf dikenal tingkatan
ma’rifat, dimana seorang sufi dapat melihat Tuhan dengan kalbunya dan dapat
pula berdialog dengan Tuhan. Adanya komunikasi antara orang-orang tertentu
dengan Tuhan bukanlah hal yang ganjil. Oleh karena itu adanya dalam Islam wahyu
dari Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW, bukanlah pula suatu hal yang tidak dapat
diterima akal.
PENCARIAN
KEBENARAN OLEH AL-GHAZALI
Dalam
bukunya yang terkenal "Keluar dari Kemelut" (al-Minqidz
minal-Dhalal), ia melukiskan pencariannya yang intensif akan kebenaran. Dan
dalam karya ini jugalah ia mendiskusikan tentang indera, akal dan hati.
Dalam
karya otobiografis intelektual ini, ia mengungkapkan keinginannya untuk
mengetahui segala sesuatu, termasuk kepercayaan agama, seyakin-yakinnya,
sebagaimana keyakinannya kepada kebenaran matematik: tiga lebih kecil dari
sepuluh. Kalau ada orang yang mengatakan sebaliknya, bahwa 10 lebih kecIl dari
3, kepercayaan saya bahwa 3 lebih kecil sari 10, tetap tidak akan goyah,
sekalipun orang itu dapat mengobah tongkat jadi ular.
Oleh
karena itu, maka ia mencoba mencari sumber pengetahuan yang meyakinkan. Untuk
memulainya, ia coba indera. Ada fase dalam hidupnya ketika al-Ghazali memandang
pengetahuan inderawilah yang paling meyakinkan. Betapa saya akan ragu terhadap
keberadaan pena yang saya gunakan untuk menulis coretan ini? Tetapi ketika
memperhatikan bayang-bayang rumahnya, ia menyadari betapa indera telah
menipunya, karena, walaupun mata kita tidak bisa mendeteksi dan melacak
pergeseran bayang-bayang (karena lambatnya), namun kenyataannya pada waktu sore
hari bayangan tersebut telah berpindah ke tempat yang berlawanan. Demikian juga
ketika kita mengamati bintang di langit, di hadapan kita bintang-bintang itu
begitu kecil, padahal menurut penelitian astronomis, banyak bintang yang jauh
lebih besar daripada matahari. Dengan begitu, maka al-Ghazali menyadari betapa
indera ini tidak betul-betul merepresentasikan objeknya dengan setia. Dengan
kata lain, indera telah mengkhianati kita, dan karena itu tidak dapat dipercaya
sepenuhnya. Kepada mereka yang pernah membohongi kita, bagaimana kita bisa
percaya sepenuhnya?
Setelah
ia tidak menaruh kepercayaan lagi pada indera, al-Ghazali ingin mencoba akal.
Dalam bukunya Misykat al-Anwar, al-Ghazali mengatakan bahwa akal lebih patut
disebut cahaya, daripada indera, sebab akal lebih lengkap menjelaskan keadaan
sebuah objek dibanding dengan indera. Misalnya, indera kita, katakanlah mata,
tidak pernah bisa melihat bulan secara utuh. Setiap kali kita melihat bulan,
hanya separuh permukaannya yang dapat kita lihat. Tetapi akal kita bisa "
melihat" bulan secara utuh sebgai sebuah bola (sferik). Jadi,
keterangannya lebih lengkap daripada indera. Demikian juga bintang dapat
diketahui memiliki ukuran yang kadang lebih besar dari matahari oleh akal,
bukan indera. Kebenaran-kebenaran matematik pun dapat dirumuskan oleh akal,
bukan oleh indera. Kebenaran-kebenaran tersebut bersifat abstrak, sehingga
tidak dapat dcerap oleh indera.
Tetapi
setelah agak lama ditenangkan oleh penemuan ini, al-Ghazali masih ragu apakah
akal manusia betul-betul mampu meraih kebenaran sejati. Ketika ia mulai
merenungkan berbagai sistem filsafat yang berkembang dari penyelidikan akal, ia
merasa bingung, mengapa sistem-sistem filosofis bisa berbeda satu sama lain,
padahal mereka sama-sama didasarkan pada akal. Kalau akal memang bisa mencapai
kebenaran sejati, maka mestinya sistem-sistem filsafat ini akan sampai kepada
kebenaran yang sama. Tapi nyatanya mereka berbeda satu sama lainnya. Ini, bagi
al-Ghazali, merupakan petunjuk bahwa akal tidak bisa mencapai kebenaran sejati.
Kebenaran mereka adalah kebenaran semu, yang nampaknya saja benar, tapi pada
tingkat kesadaran yang lebih tinggi ternyata keliru. Ini tak ubahnya seperti
ketika kita bermimpi. Apa yang kita alami dalam mimpi akan terasa begitu nyata.
Tetapi ketika kita terjaga, kebenaran-kebenaran itu kini tampak rancu, tidak
masuk akal. Demikianlah, untuk kedua kalinya al-Ghazali dikecewakan oleh
kanyataan bahwa, seperti indera, akal juga ternyata tidak bisa dipercaya. Ia
pun kembali dilanda keraguaan yang menyiksa.
Untuk
memulihkan keyakinannya kembali, maka ia memutuskan untuk meninggalkan Baghdad,
dengan mencampakkan kedudukannya sebagai rektor Universitas Nizhamiyyah pusat
Bagdhad, universitas terbesar dunia Islam saat itu. Selanjutnya ia melakukan
pengembaraan spiritual lebih dari 10 tahun. Dalam pengembaraannya yang panjang
ini, ia kemudian menyadari betapa indera dan akal punya kelemahan-kelemahan
yang mendalam. Dalam salah satu karyanya, ia mengatakan bahwa akal adalah
seperti timbangan emas, yang bisa diandalkan kalau yang ditimbang berupa
cincin, gelang, anting dsb. Tetapi pertanyaannya, dapatkah timbangan emas
dipakai menimbang gunung?
Kemudian,
setelah melalui latihan spiritual keras, maka al-Ghazali akhirnya menemukan
bahwa "hati"-lah yang betul-betul dapat diandalkan untuk bisa
menerima kebenaran secara lebih sempurna. Tetapi bukan atas usaha manusia
semata, melainkan melibatkan kehendak Tuhan yang mahakuasa. Apa yang dapat
manusia lakukan dengan hatinya hanyalah mempersiapkan diri (isti'dad) untuk
dapat menerima kebenaran dengan lebih komprehensif. Manusia yang telah
membersihkan hatinya sehingga ibarat kaca yang ransparan, sehingga dapat
menerima cahaya ilahi saat cahaya itu membersit di atas hatinya dengan sangat
jelas.
Pelimpahan
cahaya ilahi ke dalam hati manusia yang telah siap menerimanya itulah yang
disebut para sufi sebagai "mukasyafah" (penyingkapan), atau "musyahadah"
(penyaksian). Dalam peristiwa ini, manusia diperlihatkan Tuhan segala realitas
dengan langsung dan gamblang, sehingga tidak menimbulkan sedikitpun keraguan di
dalam hatinya. Begitulah, melalui hati, al-Ghazali akhirnya mendapatkan apa
yang selama ini dicari-carinya: kebenaran sebagaimana adanya dan keyakinan yang
teguh akan apa yang diketahuinya.[4]
Daftar Pustaka
Al-Ghazali,
(Ihya’ Ulumuddin, Pustaka Nasional Pte Ltd,2007) cet VIII
Mulyadi Tatanegara
(Menyelami Lubuk Tasawuf, Penerbit Erlangga, 2006)
No comments:
Post a Comment